Buah Berbakti Pada Ibu

Malam telah larut dan sebentar lagi pagi akan datang. Aku masih larut melihat perkembangan bursa di New York. Dari tadi siang aku malas membuka email karena melihat perkembangan pasar yang semakin memburuk. Kelihatannya hari hari kedepan tak ada lagi yang bisa diharapkan kecuali bertahan dalam situasi buruk. Teman mengatakan dalam gurauan kepadaku bahwa ini saatnya kita surfing diatas gelombang ganas. Lihatlah tak banyak yang bisa selamat tapi ini tantangan untuk menguji siapa yang qualified melewati putaran waktu.

SMS datang” sudah baca email dari Kedutaan? Anda diundang untuk datang menghadap Raja mereka” saya terkejut. Bersegera saya membuka email. Benarlah , email ini datang dari tadi siang. Terbayang upaya hampir setengah tahun untuk mendapatkan clients potensial kini peluang terbuka dengan adanya undangan untuk presentasi. Walau kemungkinan berhasil masih sangat jauh namun setidaknya ini titik awal untuk sebuah harapan. Akupun bersegera membuka file presentasi untuk mempertajam materi dan menambah sedikit bahan sesuai hasil riset mutakhir.

Pagi pagi aku bersama team sudah berada di Airport untuk terbang memenuhi undangan. Dijadwalkan, setiba dibandara aku akan dijemput oleh asisten kerajaan. Kemudian akan diantar ke tempat istirahat kerajaan sambil menunggu jadwal pertemuan khusus dengan Raja. Setelah pertemuan dengan Raja, maka keesokan harinya dijadwalkan untuk menghadiri presentasi dengan pejabat terkait. Penerbangan first class itu sangat nyaman. Didalam pesawat aku berusaha membaca indicator mutakhir ekonomi dan social Negara yang akan aku kunjungi itu.

Ketika mendarat, cuaca cukup cerah. Pejabat yang menjemput kami nampak tersenyum ramah membawa kami ke limosine untuk menuju hotel. Sesampai di Hotel Kerajaan, pejabat itu memberikan kesempatan kami untuk istirahat dan dia langsung kembali kekantornya. Pejabat itu berpesan bahwa besok jadwal pertemuanku dengan Raja. Hanya aku saja tanpa didampingi team. Jam 7 malam jemputan akan sampai di hotel untuk acara makan malam jam 8 bersama Raja. Aku mengangguk.

Aku bekerja bersama team sampai mendekati subuh untuk memantapkan segala persiapan. Setelah sholat subuh aku memilih untuk istirahat dan tidur. Begitupula dengan team lainnya. Sebelum berangkat tidur, telp cellularku bordering.
“ Pah” suara istriku diseberang.
“ Ya” Aku menangkap ada sesuatu dirumah.
Karena tidak seperti biasanya instriku menelphone sepagi ini.
“ Papa, tenang aja. “
“ Ya tenang, Ada apa “
“ Bunda, kena serangan jantung ringan.”
“ Sekarang Bunda ada dimana ?
“ Dirumah sakit. Mama dampingi bunda terus. Kata doctor keadaannya sudah membaik. Papa tenang aja. Adik adik semua ada disini kumpul. Bunda dibawah perawatan dokter terbaik. Kita berdoa aja semoga keadaan bunda semakin membaik.“
Terkesan bagiku , istri berusaha menenangkan aku bahwa keadaan bunda baik baik saja tapi diapun tidak bisa menyembunyikan kekawatiran akan keadaan bunda. Seusai menerima telephone itu, batinku mendesakku untuk segera pulang. Tapi bagaimana dengan rencana kunjungan ini. Bagaimana perasaan teamku bila pertemuan ini gagal karena aku harus segera pulang. Apalagi perjuangan mendapatkan clients ini sudah berlangsung lebih dari setengah tahun. Namun hatiku tidak bisa tenang dengan segala pemikiran tentang masa depan usahaku. Aku hanya memikirkan tentang hari ini dimana bunda sedang sakit dan aku harus ada disampingnya.

“ Apakah itu tidak bisa ditunda lusa saja atau besok saja setelah kamu bertemu dengan raja” kata salah satu teamku. Dia dapat memaklumi sikapku namun dia juga meminta kebijakanku soal kelangsungan business kami.
“ Ibu saya sakit dan ini tidak sederhana. Aku tidak bisa memaafkan diriku bila aku sampai menunda pulang.“ Kataku dengan wajah bingung. Aku terduduk sambil mengusap kepala. Bayanganku terus kepada bunda.

“ Tapi bagaimana dengan rencana kita “
“ Maafkan aku…” Kataku menatapkanya dengan wajah sesal, Berharap teamku dapat memaklumi. Semua anggota team terdiam.
Akhirnya salah satu dari mereka berkata “Kamu benar.! Kalau begitu kita putuskan pulang hari ini.“ Kata mereka dengan tersenyum seakan berusaha menutupi keadaan posisiku agar tidak merasa bersalah karena keputusanku untuk pulang.

Jam 8 pagi aku menelhone pejabat penghubung kami dengan kerajaan dan menyampaikan alasan kami untuk pulang.
“ Yang harus anda ketahui bahwa tidak pernah satu kalipun Raja kami dibatalkan pertemuannya oleh orang lain. Ini penghinaan. Sikap protokoler istana akan sangat keras. “
“ Mengapa ?“
“ Kamu sudah setuju untuk datang dan kini mendadak kamu batalkan sepihak karena alasan yang tidak masuk akal”
“ Ini soal ibu saya.”
Pejabat itu hanya terdiam dengan wajah terkesan marah.
“ Maafkan kami. Semua akomodasi dan ticket yang sudah kerajaan keluarkan akan kami ganti. Ini kesalahan kami dan kami akan membayar kesalahan itu.” kataku
“ Reputasi anda juga akan hancur” Kata pejabat itu dengan nada mengancam.
“ Kami sadar akan itu. Sekali lagi maafkan kami”
Nampak pejabat itu berbicara melalui telp dengan nada penuh hormat.
“ Tadi barusan saja pangeran berbicara dengan saya dan ia sangat marah karena pembatalan pertemuan ini. “ Kata pejabat itu.
“ Apakah aku bisa bicara dengan beliau”
“ Tidak perlu. “ katanya tegas dan kesal.

Aku bersama team berangkat menuju bandara. Rencananya . aku langsung pulang ke Jakarta. Sementara teamku kembali ke Hong Kong. Sesampai dibandara, nampak sekuriti sangat ketat. Supir taksi yang kami tumpangi mengatakan bahwa Raja datang ke Bandara. Kami terpaksa turun agak jauh dari gate keberangkatan. Ketika aku bersama team melangkah menuju bandara keberangkatan, salah satu pejabat yang mengenal kami bersegera berlari kearah kami.

Dengan ramah pejabat itu berkata” raja ingin bertemu dengan kamu”. Aku mengangguk dengan melangkah agak ragu mengikuti pejabat itu keruang VVIP. Ketika melewati kuridor bandara seorang petugas mengambil passportku dengan ramah.

Aku terus melangkah dalam perasaan penuh tanya. Ada apa gerangan ini?. Ketika pintu ruangan VVIP terbuka, nampak sang Raja didampingi putra mahkota tersenyum ramah kearahku. Tanpa sungkan dia memelukku sambil mencium pipiku.
“ Saya mendengar kabar bahwa ibunda anda sakit dan anda harus segera pulang. Benarkah itu ?”
“ Maafkan aku ya yang mulia. Bukan bermaksud tidak menghormati undangan Yang Mulia tapi keadaan ibu memang memerlukan kehadiranku disampingnya.”
“ Pulanglah. Urusan dunia ini tidak penting. Memuliakan ibu adalah memuliakan Allah. Tak ada ibadah terbaik didunia ini selain berbakti kepada ibu. Sampaikan salam saya kepada ibu anda. Doa saya akan menyertainya.” Kata kata itu meluncur begitu sejuknya. Aku sampai terharu. Di hadapanku ada seorang raja yang kaya raya dan dihormati namun tetap lebih menghormati seorang ibu.
“ Terimakasih ya Yang Mulia”
“ Saya yang harus berterimakasih kepadamu. Karena lewat peristiwa ini, saya bisa
memberikan pelajaran berharga kepada putra saya. Bahwa tak penting berapa peluang business yang akan diraih namun bila saatnya datang untuk memuliakan orang tua maka itulah yang lebih diutamakan.” kata Raja itu sambil menatap kearah putra mahkotanya.

Usai pertemuan itu , aku bersama pejabat penghubung kerajaan keluar ruangan VVIP menuju bandara keberangkatan. Pejabat itu berkata” Yang Mulia Raja meminta anda pulang dengan jet pribadinya. Sementara team anda tetap disini untuk melanjutkan pertemuan dengan pejabat terkait. Raja juga telah memutuskan untuk memilih perusahaan anda sebagai mitra kami. Selamat. “

Anggota team saya nampak berlinang air mata ketika mendengar kata kata itu. “ Bila kita muliankan ibu maka Allah akan memuliakan kita. Tentu yang sulit menjadi mudah, yang sempit menjadi lapang. Anda benar dan kami percaya sikap anda.” kata salah satu anggota team saya sambil memeluk saya.

Ketika sampai di bandara, aku langsung ke rumah sakit. Setiba dirumah sakit, istriku sudah menunggu dan membawaku keruangan bunda dirawat. Kucium kening bunda dan nampak matanya terbuka, Bunda tersenyum ”Kaukah itu nak ? “
“ Ya , bunda.”
“ Siapa yang bilang bunda sakit. Bunda engga apa apa.” Bunda menoleh kearah istriku “Jangan kau ganggu anakku bekerja. Soal begini tak perlulah dikabarkan. Kau pikir mudah untuk kembali dari luar negeri ke sini. Lagian disana dia tidak main main. Dia kerja. “ Bunda mengomeli istriku.

Itulah bunda, dalam keadaan apapun beliau tetap tidak ingin membuat anaknya repot. Andaikan tangannya masih kokoh, langkahnya masih kuat itu akan selalu digunakannya untuk membimbing anak anaknya melangkah tegar dalam ketertatihan. Senandungnya akan terus terdengar mengantar anaknya tidur bahwa besok akan selalu baik baik saja, dan bunda akan selalu ada disampingmu, nak…

Dubai..

via fb Ust. Abdullah Sholeh Alhadrami (Kiriman dari teman Ust. Abdullah Sholeh Hadrami)

Iklan

MARBOT MASJID (Kisah nyata dari Masjid di Puncak, Bogor)

Ada dua sahabat yang terpisah cukup lama; Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini pintar sekali. Cerdas. Tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yang biasa-biasa saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depan Zaenal.

Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu. Bertemu di tempat yang istimewa; di koridor wudhu, koridor toilet sebuah masjid megah dengan arsitektur yang cantik, yang memiliki view pegunungan dengan kebun teh yang terhampar hijau di bawahnya. Sungguh indah mempesona.

Adalah Zaenal, sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menengah. Necis. Perlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya.

Ia punya kebiasaan. Setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yang ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Syukur-syukur masih dapat waktu yang diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga sebagai tambahan.

Seperti biasa, ia tiba di Puncak Pas, Bogor. Ia mencari masjid. Ia pinggirkan mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yang ia temukan.

Di sanalah ia menemukan Ahmad. Cukup terperangah Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun.

Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai merbot masjid..!

“Maaf,” katanya menegor sang merbot. “Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?”.

Yang ditegor tidak kalah mengenali. Lalu keduanya berpelukan, Ahmad berucap
“Keren sekali Kamu ya Mas… Manteb…”. Zaenal terlihat masih dalam keadaan memakai dasi. Lengan yang digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermerknya terlihat oleh Ahmad. “Ah, biasa saja…”.

Zaenal menaruh iba. Ahmad dilihatnya sedang memegang kain pel. Khas merbot sekali. Celana digulung, dan peci didongakkan sehingga jidatnya yang lebar terlhat jelas.

“Mad… Ini kartu nama saya…”.

Ahmad melihat. “Manager Area…”. Wuah, bener-bener keren.”

“Mad, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, kalau kamu berminat, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar merbot di masjid ini. Maaf…”.

Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. “Terima kasih ya… Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih-bersih dulu… Silahkan ya. Yang nyaman”.

Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yang pintar, kemudian harus terlempar dari kehidupan normal. Ya, meskipun tidak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai merbot, tapi merbot… ah, pikirannya tidak mampu membenarkan.

Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yang tidak berpihak kepada orang-orang yang sebenernya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.

Air wudhu membasahi wajahnya…

Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yang sedang bebersih. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan merbot. Melainkan “office boy”.

Tanpa sadar, ada yang shalat di belakang Zaenal. Sama2 shalat sunnah agaknya.
Ya, Zaenal sudah shalat fardhu di masjid sebelumnya.
Zaenal sempat melirik. “Barangkali ini kawannya Ahmad…”, gumamnya.
Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Ahmad.

“Pak,” tiba2 anak muda yang shalat di belakangnya menegur.

“Iya Mas..?”

“Pak, Bapak kenal emangnya sama bapak Insinyur Haji Ahmad…?”

“Insinyur Haji Ahmad…?”

“Ya, insinyur Haji Ahmad…”

“Insinyur Haji Ahmad yang mana…?”

“Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak…”

“Oh… Ahmad… Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP. Emangnya udah haji dia?”

“Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelum beliau bangun ini masjid…”.

Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hatinya Zaenal… Dari dulu sudah haji… Dari sebelum beliau bangun masjid ini…

Anak muda ini kemudian menambahkan, “Beliau orang hebat Pak. Tawadhu’. Saya lah yang merbot asli masjid ini. Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau bangun sendiri masjid indah ini, sebagai masjid transit mereka yang mau shalat. Bapak lihat mall megah di bawah sana? Juga hotel indah di seberangnya? … Itu semua milik beliau… Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, aneh. Yaitu senangnya menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji saja dan azan…”.

Wah, entahlah apa yang ada di hati dan di pikiran Zaenal…

***

Bagaimana menurut kita?

Jika Ahmad itu adalah kita, mungkin begitu ketemu kawan lama yang sedang melihat kita membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita siapa yang sebenernya.

Dan jika kemudian kawan lama kita ini menyangka kita merbot masjid, maka kita akan menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah kawan kita bahwa kita inilah pewakaf dan yang membangun masjid ini.

Tapi kita bukan Haji Ahmad. Dan Haji Ahmad bukannya kita. Ia selamat dari rusaknya nilai amal, sebab ia cool saja. Tenang saja. Adem. Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dan kemudian Allah yang memberitahu siapa dia sebenarnya.

Begitulah keikhlasan dalam beramal…

Sumber: jejakislam

Di Bawah Langit Turki

Di dalam buku hariannya Sulthon Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kekalutan yang sangat, ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya. Sultan berkata kepada kepada kepala pengawal: “Mari kita keluar sejenak”. Diantara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan dimalam hari dengan cara menyamar.

Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka disebuah lorong yang sangat sempit. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun setiap orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya.

Sultanpun memanggil mereka, mereka tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan. Mereka bertanya: “Apa yang kau inginkan?.
Sultan menjawab: “Mengapa orang ini meningal tapi tidak ada satu pun diantara kalian yang mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Dimana keluarganya?”
Mereka berkata: “Orang ini Zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina”.
Sultan menimpali: “Tapi . . bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam? Ayo angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya”.

Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya. Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.

Dalam tangisnya sang istri berucap: Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah.. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang sholeh”.
Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget.. “Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang mengatakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya”.

Sang istri menjawab:
“Sudah kuduga pasti akan begini… Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu di bawah ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata: “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin”.
Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: “Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi”.
Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam”.

Orang-orangpun hanya menyaksikannya selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir. Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: “Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu”.
Ia hanya tertawa, dan berkata: “Jangan takut, bila aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya”.
Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata: “Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, mensholatinya dan menguburkannya”.

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para masyaikh dan seluruh masyarakat.

Sumber : enkripsi.wordpress.com

Aku Mencium Bau Surga!

Dalam sebuah hadits yang terdapat dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu’anha bahwa Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam bersabda,
“Ada tujuh golongan orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya…di antaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah.”

Seorang Dokter bercerita :

Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal (semoga Allah merahmatinya). Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya (semoga Allah membalas kebaikan mereka) melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara.

‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal… tenanglah… sesungguhnya aku mencium bau surga.!’

Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan pada dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, jangan kalian menyusahkan diri sendiri… karena sekarang aku mencium bau surga.’

Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah. ‘ Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta Subhanallahu wa Ta’ala.

Allahu Akbar… apa yang harus kukatakan dan apa yang harus aku komentari… semua kalimat tidak mampu terucap… dan pena telah kering di tangan… aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala,
‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ (Ibrahim: 27).

Mereka membawanya untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya’ di tempat memandikan mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir, yaitu :

  1. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat.” Ini merupakan tanda-tanda Husnul Khatimah.
  2. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Padahal tubuh orang yang sudah meninggal itu dingin, kering dan kaku.
  3. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiaannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.

Subhanallah… sungguh indah kematian seperti ini. Kita bermohon semoga Allah menganugrahkan kita Husnul Khatimah.

Saudara Dhiya’ bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabannya?

Ayahnya berkata,
‘Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Ia gemar menghafal al-Qur’an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU’.”

Maha benar Allah yang berfirman,
‘Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang.’ (Fushshilat: 30-32).”

(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN KARYA MUHAMMAD BIN SHALIH AL-QAHTHANI, PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616 sebagai yang dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-Jabir)

Dipublish oleh : enkripsi.wordpress.com

Biografi ‘Aisyah : Ujian Haditsul Ifki (Berita Bohong) yang Menimpanya

Peristiwa itu terjadi sekitar tahun keenam Hijriyah, setelah Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menikah dengan Zainab binti Jahsy. Ketika itu beliau tengah bersiap-siap untuk memerangi Bani Mushtholiq, lalu beliau mengundi antara istri-istrinya, sebagaimana kebiasaan beliau ketika akan bepergian atau berperang, ternyata yang keluar adalah jatah ‘Aisyah.

Singkat cerita, Rosulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , Sang Panglima dan Nabi Pilihan, kembali dari perang tersebut dengan membawa kemenangan. Rombongan pasukan beliau yang berhasil meraih kemenangan itu berjalan menuju Madinah. Di tengah perjalanan beliau mendirikan kamp perkemahan dan menginap beberapa malam. Setelah itu beliau memerintahkan rombongan pasukannya untuk berangkat meneruskan perjalanan. Akhirnya mereka berangkat, sementara mereka tidak sadar bahwa Sayyidah ‘Aisyah tertinggal ketika mereka mendirikan perkemahan tadi.

‘Aisyah bercerita : Aku keluar untuk menyelesaikan sebagian hajatku sebelum manusia diperintahkan untuk berangkat. Ketika itu aku mengenakan kalung mutiara Dzifar (Dzifar adalah nama sebuah desa di Yaman). Setelah menyelesaikan hajatku, kalung itu terlepas dari leherku tanpa kusadari. Tatkala aku telah kembali ke kendaraan, aku pergi lagi ke tempat menyelesaikan hajatku. Aku mencari kalung itu hingga berhasil menemukannya. Ketika aku masih di kejauhan, orang-orang sudah berangkat menuntun untaku dan mengambil tandu. Mereka mengira aku berada di dalamnya, karena tubuhku ringan dan dagingku tidak berat. Mereka mengangkat tandu itu dan mengikatnya di atas untaku. Mereka sama sekali tidak ragu bahwa aku ada di dalamnya. Lalu mereka menarik kepala unta dan berangkat. Tak lama kemudian, aku kembali ke kamp perkemahan. Ternyata tidak ada siapa pun disana, semua sudah pergi. Maka, aku berselimut dengan jilbabku dan tidur di tempatku berada. Aku memperkirakan, jika mereka sadar kehilangan diriku, tentu mereka akan kembali.

Demi Alloh, ketika aku sedang berbaring, tiba-tiba lewatlah Shofwan bin Mu’aththol As-Sulami. Kebetulan ia tertinggal di belakang pasukan karena menyelesaikan hajatnya, sehingga ia tidak ikut bermalam bersama yg lain. Ia melihat bayanganku dari kejauhan, lalu ia mendekat hingga berdiri disampingku -Shofwan sudah pernah melihat wajah ‘Aisyah sebelum diwajibkannya jilbab-. Begitu ia melihat bahwa itu adalah diriku, ia berkata, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun… Istri Rosululloh! Apa yang membuatmu tertinggal, yarhamukillaah?” Aku diam saja dan tak menjawab sama sekali. Kemudian ia mendekatkan untanya dan mengatakan, “Naiklah.”

Ia menjauh dariku, lalu aku naik. Ia menuntun kepala unta itu dan berangkat dengan cepat untuk menyusul pasukan. Demi Alloh, kami sama sekali tidak menjumpai pasukan itu, dan mereka tidak merasa kehilangan diriku kecuali hingga keesokan harinya. Saat pasukan berhenti, lalu muncullah orang yang menuntunku tadi. Kemudian ‘Aisyah pergi ke tempat tidurnya dan tidur dengan tenang. Setelah itu, ia jatuh sakit selama satu bulan dan tidak bisa bangun.

Sementara itu, berita bohong mulai tersebar di tengah kaum muslimin. Dimulai dari rumah ‘Abdulloh bin Ubay bin Salul dan orang-orang munafik, serta didengung-dengungkan oleh sebagian kaum muslimin, diantaranya adalah Hassan bin Tsabit Al-Anshori, Misthoh bin Utsatsah bin ‘Ibad -kerabat Abu Bakar-, dan Hamnah binti Jahsy, sepupu Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

‘Aisyah menuturkan, “Begitu sampai, aku jatuh sakit selama satu bulan, sementara orang-orang riuh membicarakan isu para penebar berita bohong itu, namun aku sama sekali tidak mengetahui semuanya. Yang membuatku ragu adalah selama aku sakit aku tidak melihat dari Rosulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sikap lembut seperti yang biasanya beliau berikan kepadaku ketika aku sakit. Beliau hanya masuk ke kamarku mengucapkan salam dan bertanya, ‘Bagaimana kamu?’ Setelah itu, beliau pergi. Itulah yang membuatku ragu, namun aku tidak merasa ada sesuatu yang buruk. Hingga akhirnya aku keluar, saat aku sudah mulai sembuh, bersama Ummu Misthoh ke Al-Mashoni’ (Nama tempat di luar kota Madinah, tempat mereka biasa buang air besar). Itu adalah tempat kami biasa buang air besar. Kami tidak pernah pergi ke situ selain di malam hari atau di malam hari berikutnya. Hal itu terjadi sebelum kami membuat kakus di dekat rumah-rumah kami. Kami masih memakai tradisi pertama bangsa Arab dalam masalah buang air di atas daratan. Dulu kami merasa terganggu jika kakus itu kami buat di dekat rumah-rumah kami.”

‘Aisyah melanjutkan, “Maka aku berangkat bersama Ummu Misthoh. Ia adalah putri dari Abu Rohm bin Muththolib bin ‘Abdi Manaf. Ibunya adalah putri dari Sokh bin ‘Amir, bibi Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sedangkan anaknya bernama Misthoh bin Utsatsah. Lalu aku dan Ummu Misthoh balik ke rumahku. Ketika kami telah selesai dengan urusan kami, tiba-tiba Ummu Misthoh terpeleset oleh kain kerudungnya, spontan ia berkata, “Celakalah Misthoh!”

Aku menyahut, “Sungguh buruk perkataanmu, apakah kamu akan mencela seseorang yang ikut dalam perang Badar?”. “Kasihan sekali, tidakkah kamu mendengar apa yang ia katakan?”, ujar Ummu Misthoh. “Apa yang ia katakan?”, tanya ‘Aisyah.

Maka, Ummu Misthoh memberitahuku tentang isu yang didengungkan para penebar berita bohong itu. Mendengar ceritanya, sakitku kambuh kembali dan bertambah parah. Ketika aku pulang ke rumahku, Rosulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ masuk dan mengucapkan salam, beliau bertanya, “Bagaimana kamu?” Aku berkata pada beliau, “Apakah anda mengijinkanku menemui kedua orang tuaku?” ‘Aisyah melanjutkan, “Aku ingin memastikan berita itu kepada mereka berdua.”

Rosulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun mengijinkanku. Maka, aku bertanya kepada ibuku, “Wahai ibu, apakah yang sedang dibicarakan orang-orang?”. Ibuku menjawab, “Putriku, kasihan kamu. Demi Alloh, tidaklah seorang wanita cantik jelita yang dicintai oleh suami yang memiliki beberapa istri, kecuali mereka akan banyak menyebutkan aib dan kekurangannya”. ‘Aisyah berkata, “Subhanalloh, apakah manusia membicarakan hal ini?”. Maka, malam itu aku menangis hingga pagi. Air mataku tidak pernah berhenti. Aku tidak bisa tidur. Dan, di pagi harinya, aku kembali menangis.

Kemudia Rosulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memanggil ‘Ali bin Abi Tholib dan Usamah bin Zaid, beliau bertanya dan meminta saran kepada mereka berdua mengenai buruk-baiknya jika beliau menceraikan istrinya. Adapun Usamah, ia memberi masukan sesuai yang ia ketahui tentang keluarga Rosulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , bahwa istri beliau terbebas dari tuduhan tersebut. Ia berkata, “Kami tidak mengetahui dalam keluarga Anda selain kebaikan.”

Sedangkan ‘Ali (untuk menghilangkan keresahan beliau terhadap fitnah tersebut, -ed.), ia berkata, “Wahai Rosulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , Alloh tidak akan mempersempit Anda. Wanita selain dia (‘Aisyah) masih banyak. Tanya saja budak perempuannya (Bariroh), niscaya ia akan meyakinkan Anda.”

Rosulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun memanggil Bariroh, beliau bertanya kepadanya, “Wahai Bariroh, apakah kamu melihat sesuatu yang meragukanmu?”. Ia menjawab, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku tidak melihat hal yang meragukan pada diri ‘Aisyah sama sekali. Hanya saja, ia itu tak ubahnya bocah perempuan belia yang tertidur saat menunggu adonan roti keluarganya. Lalu, datanglah seekor kucing dan memakan adonan tersebut.”

Pada hari itu juga, Rosulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berkhutbah dan meminta pembelaan jika mau membalas terhadap ‘Abdulloh bin Ubay bin Salul (si penebar berita bohong). Di atas mimbar, beliau bersabda, “Wahai kaum muslimin, siapakah yang membelaku jika aku membalas terhadap seorang lelaki yang aku dengar telah menyakiti keluargaku. Demi Alloh, aku tidak mengetahui keluargaku selain kebaikan. Sungguh, mereka telah menyebut-nyebut nama seorang lelaki yang aku tidak mengetahui pada dirinya selain kebaikan, dan dia tidak pernah masuk ke tempat keluargaku kecuali bersamaku.”

Sa’ad bin Mu’adz pun berdiri, ia berkata, “Aku yang akan memberimu pembelaan, wahai Rosululloh. Jika orang itu berasal dari suku Aus, maka akan kupenggal kepalanya. Namun, jika dia dari kalangan kami, suku Khozroj, maka perintahkanlah sesukamu, niscaya akan kami taati perintahmu.”

Mendengar perkataan Sa’ad bin Mu’adz, berdirilah seorang lelaki (yaitu Sa’ad bin ‘Ubadah, -ed.) dari suku Khozroj, karena terpancing emosinya. Ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz, “Demi Alloh, kamu dusta. Kamu tidak akan membunuhnya, dan tidak akan mampu membunuhnya. Kalau dia berasal dari keluargamu, pasti kamu tidak suka kalau dia dibunuh.”

Usaid bin Khudhoir -yang merupakan sepupu Sa’ad bin Mu’adz- ikut berdiri. Ia berkata kepada Sa’ad bin ‘Ubadah, “Demi Alloh, kamulah yang dusta. Kami pasti akan membunuhnya. Sesungguhnya kamu adalah seorang munafik yang membela orang-orang munafik lainnya”. Maka, kedua suku itu saling terpancing emosinya, yaitu suku Auz dan Khozroj, hingga hampir saja mereka saling bunuh, sementara Rosulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ masih berdiri di atas mimbar. Beliau terus meredam mereka, hingga akhirnya mereka semua diam, dan beliau juga diam.

‘Aisyah melanjutkan ceritanya, “Setelah itu, Rosulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ duduk dan untuk pertama kalinya beliau berbicara kepadaku (‘Aisyah) sejak tersebarnya isu bohong itu. Beliau bersabda, ‘Wahai ‘Aisyah, telah sampai berita kepadaku dari orang-orang seperti yang telah terjadi, maka bertakwalah kepada Alloh. Jika kamu memang tidak bersalah, niscaya Alloh akan membebaskanmu. Tapi, jika kamu telah melakukan suatu dosa, maka mintalah ampun dan bertaubat kepada Alloh’.”

‘Aisyah berkata kepada kedua orang tuanya, “Jawablah apa yang dikatakan Rasulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ itu”. Serentak mereka berdua menjawab, dengan suara yang sulit dipahami, “Demi Alloh, kami tidak tahu harus menjawab apa”. Maka, sambil menangis, ‘Aisyah menjawab, “Demi Alloh, aku tidak akan bertaubat kepada Alloh dari perbuatan yang anda katakan itu selama-lamanya. Demi Alloh, aku benar-benar tahu jika aku mengakui apa yang dikatakan oleh orang-orang itu, sedangkan Alloh Maha Tahu bahwa aku terbebas dari tuduhan mereka, maka aku telah mengatakan sesuatu yang tidak terjadi. Namun, jika aku membantah apa yang mereka katakan, tentu kalian tidak akan mempercayaiku. Demi Alloh, aku tidak menemukan satu perumpamaan pun yang tepat tentang diriku selain seperti ayahanda Nabi Yusuf saat berkata, ‘…Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Alloh sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan’ (Yusuf [12] : 18).”

Kemudian aku terdiam, sementara Rosulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tetap duduk di tempatnya, di sisi ‘Aisyah, sampai turunlah wahyu kepada beliau. Karena beratnya wahyu, beliau terlihat menahan kesusahan, hingga keringat keluar dari tubuh beliau seperti butiran mutiara, padahal saat itu adalah musim dingin. Tiba-tiba beliau terlihat gembira, sambil tertawa beliau bersabda, “Bergembiralah wahai ‘Aisyah, Alloh telah menurunkan pembebasanmu.”

Lalu, ibuku berkata kepadaku, “Berdirilah, sambutlah beliau (untuk mengucapkan terima kasih).” Kukatakan, “Demi Alloh, aku tidak akan berdiri menyambut beliau. Dan, aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Alloh ‘Azza wa Jalla  semata.” Alloh Subhanahu wa Ta’alaa menurunkan firman-Nya berikut ini :

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Jangan lah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya…” (An-Nur [24] : 11)

Tatkala Alloh telah menurunkan pembebasan ‘Aisyah, maka Rosulullah   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bangkit menuju masjid dan membacakan kitab Alloh yang baru saja turun. Alloh memerintahkan beliau agar menghukum dera terhadap mereka yang membuat kebohongan dengan perbuatan keji itu :

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya…” (An-Nur [24] : 4)

Abu Bakar kemudian menghentikan nafkah yang biasa ia berikan kepada Misthoh bin Utsatsah, maka Alloh menurunkan firman-Nya setelah itu :

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan diantara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Alloh, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Alloh mengampunimu? Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” ( An-Nur [24] : 22)

Abu Bakar pun berkata, “Ya, demi Alloh, aku suka Alloh mengampuni”. Kemudian, ia kembali menafkahi Misthoh dan berkata, “Demi Alloh, aku tidak akan menghentikannya sampai kapan pun”.

—–

Sumber:

Judul asli “Zaujatun Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ wa Auladuhu”; Penulis: Muhammad Mahmud ‘Abdulloh; Penerbit: Darush Shobuni.

Judul terjemahan “Biografi Keluarga Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”; Penerjemah: Ridwan Iskandar; Penerbit: Mumtaza, Solo, Cetakan I, Maret 2008/ Robi’ul Awwal 1429 H.

Dipublikasikan kembali oleh Tim AhlulBait.info.

Pencuri yang Memberi Nasehat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewakilkan padaku untuk menjaga zakat Ramadhan (zakat fitrah). Lalu ada seseorang yang datang dan menumpahkan makanan dan mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Demi Allah, aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu ia berkata, “Aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku pun sangat membutuhkan ini.” Abu Hurairah berkata, “Aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.“

Aku pun tahu bahwasanya ia akan kembali sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan. Aku pun mengawasinya, ternyata ia pun datang dan menumpahkan makanan, lalu ia mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu ia berkata, “Biarkanlah aku, aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku tidak akan kembali setelah itu.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun menaruh kasihan padanya, aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya pergi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.“

Pada hari ketiga, aku terus mengawasinya, ia pun datang dan menumpahkan makanan lalu mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sudah kali ketiga, engkau katakan tidak akan kembali namun ternyata masih kembali. Ia pun berkata, “Biarkan aku. Aku akan mengajari suatu kalimat yang akan bermanfaat untukmu.” Abu Hurairah bertanya, “Apa itu?” Ia pun menjawab, “Jika engkau hendak tidur di ranjangmu, bacalah ayat kursi ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum …‘ hingga engkau menyelesaikan ayat tersebut. Faedahnya, Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun melepaskan dirinya dan ketika pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya padaku, “Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?” Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengaku bahwa ia mengajarkan suatu kalimat yang Allah beri manfaat padaku jika membacanya. Sehingga aku pun melepaskan dirinya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa kalimat tersebut?” Abu Hurairah menjawab, “Ia mengatakan padaku, jika aku hendak pergi tidur di ranjang, hendaklah membaca ayat kursi hingga selesai yaitu bacaan ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum’. Lalu ia mengatakan padaku bahwa Allah akan senantiasa menjagaku dan setan pun tidak akan mendekatimu hingga pagi hari. Dan para sahabat lebih semangat dalam melakukan kebaikan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta. Engkau tahu siapa yang bercakap denganmu sampai tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?” “Tidak”, jawab Abu Hurairah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia adalah setan.” (HR. Bukhari no. 2311).

Sumber : http://rumaysho.com

Kekasih Allah “Manusia Langit” yang Tak Dikenal

Kisah hidup bapak tukang becak berusia 55 tahun di sebuah kota di Jawa Timur. Pernyataan misi hidup tukang becak itu, yakni (1) jangan pernah menyakiti dan (2) hati-hati memberi makan istri. Tukang becak macam apakah ini, sehingga punya mission statement segala? Beliau ini Hafizh Qira’at Sab’ah! Beliau menghafal Alquran lengkap dengan tujuh lagu qira’at seperti saat ia diturunkan: qira’at Imam Hafsh, Imam Warasy, dan lainnya.

Dua kalimat itu sederhana. Tetapi bayangkanlah sulitnya mewujudkan hal itu bagi kita. Jangan pernah menyakiti. Dalam tafsir beliau di antaranya adalah soal tarif becaknya. Jangan sampai ada yang menawar, karena menawar menunjukkan ketidakrelaan dan ketersakitan. Misalnya ada yang berkata,“Pak, terminal Rp 5.000 ya.” Lalu dijawab,“Waduh, enggak bisa, Rp 7.000 Mbak.” Itu namanya sudah menyakiti. Makanya, beliau tak pernah pasang tarif. “Pak, terminal Rp 5.000 ya.” Jawabnya pasti OK. “Pak, terminal Rp 3.000 ya.” Jawabnya juga OK. Bahkan kalau,“Pak, terminal Rp 1.000 ya.” Jawabnya juga sama, OK.

Gusti Allah, manusia macam apa ini.

Kalimat kedua, hati-hati memberi makan istri. Artinya, sang istri hanya akan makan dari keringat dan becak tuanya. Rumahnya berdinding gedek. Istrinya berjualan gorengan. Stop. Jangan dikira beliau tidak bisa mengambil yang lebih dari itu. Harap tahu, putra beliau dua orang. Hafizh Alquran semua. Salah satunya sudah menjadi dosen terkenal di perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di Jakarta. Adiknya, tak kalah sukses. Pejabat strategis di pemerintah.

Uniknya, saat pulang, anak-anak sukses ini tak berani berpenampilan mewah. Mobil ditinggal beberapa blok dari rumah. Semua aksesori, seperti arloji dan handphone dilucuti. Bahkan, baju parlente diganti kaus oblong dan celana sederhana. Ini adab, tata krama.

Sudah berulang kali sang putra mencoba meminta bapak dan ibunya ikut ke Jakarta. Tetapi tidak pernah tersampaikan. Setiap kali akan bicara serasa tercekat di tenggorokan, lalu mereka hanya bisa menangis. Menangis. Sang bapak selalu bercerita tentang kebahagiaannya, dan dia mempersilakan putra-putranya menikmati kebahagiaan mereka sendiri.

Ah, benar sekali: banyak kekasih Allah dan “manusia langit” yang tidak kita kenal.

ustadz Salim A Fillah dalam bukunya “Barakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta” pada halaman 448-449.