Imam Malik dan Penuduh Zina

Termula ia dari kejadian aneh; kala seorang wanita yang dikenal sebagai pezina meninggal dan perempuan ahli rawat jenazah dipanggil. Perawat jenazah pun memandikan jasad wanita itu; tapi dengan rasa geram di hati mengingat bahwa si mayyit masyhur sebagai pendosa.

Maka tatkala membasuh bagian kemaluan sang mayat; tak mampu lagi menahan gemas hati, diapun memukulnya dan menggerutukan serapah. “Duhai, sudah berapa kali ini kaupakai mendurhakai Allah!”, hardiknya. Ajaib, tangan yang memukul itu melekat di kemaluan jenazah.

SubhanaLlah, maka jadi ricuhlah suasana pemulasaraan jenazah. Para ‘alim dan cendikia dihadirkan, ditanya dan dimintai jalan keluar. Ada yang mengusulkan potong saja tangan pengurus jenazah. Ada yang berpendapat iris saja bagian tubuh mayyitnya. Semua tak elok.

Buntu semua pembahasan, tak memuaskan segala jawaban; maka merekapun membawa perkara ini kepada Imam Daril Hijrah; Malik ibn Anas. Imam Malik menyatakan sembari meleleh air mata, “Ma’adzaLlah, betapa beratnya dosa menuduh zina, hingga Allah menetapkan hadNya.”

Allah turunkan hukum tentang dosa Qadzaf; menuduh seorang wanita berzina tanpa dapat menghadirkan bukti dan 4 saksi dalam QS 24: 4.

Maka Imam Malik memfatwakan agar pengurus jenazah yang tangannya melekat di kemaluan mayat itu dikenai had Qadzaf; dera 80 kali. Sebab walau telah masyhur bahwa jenazah yang dimandikan itu semasa hidupnya adalah pezina; tapi tiada 4 saksi melihat langsung.

Jadi ringkas kisah; si pengurus jenazah pun dicambuk 80 kali sesuai had Qadzaf. TabarakaLlah, begitu tunai, lepaslah tangannya.

Subhanallah… Ya Allah, ampuni lisan-lisan kami dari perkataan yang menyakiti sesama dan mengundang murka-Mu…

Disarikan dari kultwit Ust Salimafillah.

Kakek dan Anak Yang Buta

Terkadang seseorang terkena musibah tapi dia tidak tahu bahwa musibah ini sebenarnya baik baginya. Seseorang yang bekerja di kantor kepolisian bercerita: “Suatu hari seorang pria tua yang raut mukanya tampak cemas datang untuk mengajukan keluhan. Aku bertanya padanya: “Apa masalahnya?” Dia berkata “Nak, aku adalah pria miskin. Aku punya 7 putra, dan kesemuanya buta. Suatu hari, aku mengetahui bahwa dua putraku dapat disembuhkan dan aku diberitahu tentang seorang dokter ahli di kota lainnya, tapi aku butuh kurang lebih 2.000 dinar untuk operasinya.”

Jadi aku berkata: “Oke, apakah yang terjadi?” Dia berkata: “Aku telah menyiapkan mobilnya dan di dalamnya ada 2.000 dinar. Aku segera menghampiri dua putraku, sehingga kami dapat berangkat. Aku merasa bahagia karena mereka akhirnya dapat disembuhkan. Aku bersiap-siap dan berjalan ke tempatku memarkir mobil. Ternyata aku tidak dapat menemukan mobilku. Mobilnya telah dicuri, begitu juga uangnya!”

Bayangkanlah kakek ini kehilangan uangnya padahal dia membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkannya. Dan dia terpaksa menabung uang ini untuk pengobatan kedua putranya. Jadi sekarang dia tidak punya mobil, tidak punya uang, dan putranya tidak bisa disembuhkan. Bayangkan kekhawatiran yang menimpanya.

Kemudian petugas itu berkata kepada kakek itu: “Mungkin ini baik bagimu. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin Allah punya rencana yang lain bagimu. Dan jika Allah memperlihatkan yang akan terjadi selanjutnya, maka kau akan memilih situasi ini bagi dirimu. Situasimu sekarang adalah situasi terbaik yang dapat kau pilih jika Allah menunjukkan padamu yang akan terjadi selanjutnya.”

Tapi pria itu tidak terlalu mendengarkan apa yang kukatakan karena kekhawatirannya teramat besar. Dia pun pergi meninggalkan kantor polisi. Kami mencari informasi mengenai mobilnya yang dicuri. Setelah 2 minggu, mobilnya ditemukan di gurun dan Alhamdulillah dalam kondisi yang baik. Aku berbicara pada petugas yang menemukannya dan menyuruh mereka untuk mencari 2.000 dinar di laci mobilnya. Mereka berkata bahwa uangnya masih ada.

Ternyata mobilnya dikendarai oleh beberapa anak yang bermain-main. Mereka mengemudi mobilnya hingga jauh dan ketika bensinnya habis, mereka meninggalkannya di gurun. Jadi aku langsung menelpon kakek itu dan dia pun datang ke kantor polisi. Aku ingin memberikan kabar baik kepadanya, jadi aku berkata: “Aku punya kabar baik untukmu.” Dia menjawab: “Aku juga punya kabar baik untukmu.”

Aku berkata: “Katakan kabar baikmu!” Dia berkata: “Tidak, kau lebih dulu.”

Aku berkata: “Kami menemukan mobilmu dalam kondisi baik dan Alhamdulillah 2.000 dinarnya juga ada di dalamnya.” Tapi dia tampak tidak terlalu terkesan. Aku bertanya: “Dan apakah kabar baikmu?”

Dia berkata: “Kau tahu kedua putraku yang ingin kubawa ke dokter untuk menjalani operasi mata?” Aku berkata “Ya.”

Dia berkata: “Allah telah mengembalikan penglihatan mereka tanpa operasi apapun! Alhamdulillah. Tiba-tiba, begitu saja, penglihatan mereka kembali normal.”

Bagaimana mungkin ini terjadi? Ini karena kuasa Allah! Allah memutuskan agar operasinya ditunda sehingga penglihatan mereka dapat kembali tanpa operasi apapun. Dan mungkin jika operasinya dijalankan maka justru mata mereka akan mengalami gangguan. Jadi sekarang mobilnya telah kembali dan uang 2.000 dinarnya juga! Jadi anda paham sekarang? Mungkin ini baik bagi anda! Anda mungkin melihat musibah sebagai musibah saja, tapi anda tidak pernah tahu; mungkin melaluinya Allah membawa kebaikan pada anda. Jadi selalu katakan, “Mungkin ini yang terbaik bagiku. Mungkin Allah telah menghendaki kebaikan bagiku, keluarga, dan hartaku.” Maka tetaplah berbaik sangka kepada Allah.

Sumber : http://lampuislam.blogspot.com

Sudah Siapkah Kita Saat Orang Tua Kita Berkata Jujur?

Kemarin lalu, saya bertakziah mengunjungi salah seorang kerabat yang sepuh. Umurnya sudah 93 tahun. Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, seorang pejuang yang shalih serta pekerja keras. Kebiasaan beliau yang begitu hebat di usia yang memasuki 93 tahun ini, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid untuk Maghrib, Isya dan Shubuh.

Qadarallah, beliau mulai menua dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya sejak dua bulan lalu. Sekarang beliau hanya terbaring di rumah dengan ditemani anak-anak beliau.

Kesadarannya mulai menghilang. Beliau mulai hidup di fase antara dunia nyata dan impian. Sering menggigau dan berkata dalam tidur, kesehariannya dihabiskan dalam kondisi tidur dan kepayahan.

Anak-anak beliau diajari dengan cukup baik oleh sang ayah. Mereka terjaga ibadahnya, berpenghasilan lumayan, dan akrab serta dekat. Ketika sang ayah sakit, mereka pun bergantian menjaganya demi berbakti kepada orangtua.

Namun ada beberapa kisah yang mengiris hati; kejadian jujur dan polos yang terjadi dan saya tuturkan kembali agar kita bisa mengambil ibrah.

Terkisah, suatu hari di malam lebaran, sang ayah dibawa ke rumah sakit karena menderita sesak nafas. Malam itu, sang anak yang kerja di luar kota dan baru saja sampai bersikeras menjaga sang ayah di kamar sendirian. Beliau duduk di bangku sebelah ranjang. Tengah malam, beliau dikejutkan dengan pertanyaan sang ayah, “Apa kabar, pak Rahman? Mengapa beliau tidak mengunjungi saya yang sedang sakit?” tanya sang ayah dalam igauannya. Sang anak menjawab,

“Pak Rahman sakit juga, Ayah. Beliau tidak mampu bangun dari tidurnya.” Dia mengenal Pak Rahman sebagai salah seorang jamaah tetap di masjid.

“Oh…lalu, kamu siapa? Anak Pak Rahman, ya?” tanya ayahnya kembali.

“Bukan, Ayah. Ini saya, Zaid, anak ayah ke tiga.”

“Ah, mana mungkin engkau Zaid? Zaid itu sibuk! Saya bayar pun, dia tidak mungkin mau menunggu saya di sini. Dalam pikirannya, kehadirannya cukup digantikan dengan uang,” ucap sang ayah masih dalam keadaan setengah sadar.

Sang anak tidak dapat berkata apa-apa lagi. Air mata menetes dan emosinya terguncang. Zaid sejatinya adalah seorang anak yang begitu peduli dengan orangtua. Sayangnya, beliau kerja di luar kota. Jadi, bila dalam keadaan sakit yang tidak begitu berat, biasanya dia menunda kepulangan dan memilih membantu dengan mengirimkan dana saja kepada ibunya. Paling yang bisa dilakukan adalah menelepon ibu dan ayah serta menanyakan kabarnya. Tidak pernah disangka, keputusannya itu menimbulkan bekas dalam hati sang ayah.

Kali yang lain, sang ayah di tengah malam batuk-batuk hebat. Sang anak berusaha membantu sang ayah dengan mengoleskan minyak angin di dadanya sembari memijit lembut. Namun, dengan segera, tangan sang anak ditepis.
“Ini bukan tangan istriku. Mana istriku?” tanya sang ayah.

“Ini kami, Yah. Anakmu.” jawab anak-anak.

“Tangan kalian kasar dan keras. Pindahkan tangan kalian! Mana ibu kalian? Biarkan ibu berada di sampingku. Kalian selesaikan saja kesibukan kalian seperti yang lalu-lalu.”

Dua bulan yang lalu, sebelum ayah jatuh sakit, tidak pernah sekalipun ayah mengeluh dan berkata seperti itu. Bila sang anak ditanyakan kapan pulang dan sang anak berkata sibuk dengan pekerjaannya, sang ayah hanya menjawab dengan jawaban yang sama. “Pulanglah kapan engkau tidak sibuk.”

Lalu, beliau melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Bekerja, shalat berjamaah, pergi ke pasar, bersepeda. Sendiri. Benar-benar sendiri. Mungkin beliau kesepian, puluhan tahun lamanya. Namun, beliau tidak mau mengakuinya di depan anak-anaknya. Mungkin beliau butuh hiburan dan canda tawa yang akrab selayak dulu, namun sang anak mulai tumbuh dewasa dan sibuk dengan keluarganya.

Mungkin beliau ingin menggenggam tangan seorang bocah kecil yang dipangkunya dulu, 50-60 tahun lalu sembari dibawa kepasar untuk sekadar dibelikan kerupuk dan kembali pulang dengan senyum lebar karena hadiah kerupuk tersebut. Namun, bocah itu sekarang telah menjelma menjadi seorang pengusaha, guru, karyawan perusahaan; yang seolah tidak pernah merasa senang bila diajak oleh beliau ke pasar selayak dulu. Bocah-bocah yang sering berkata, “Saya sibuk…saya sibuk. Anak saya begini, istri saya begini, pekerjaan saya begini.” Lalu berharap sang ayah berkata, “Baiklah, ayah mengerti.”

Kemarin siang, saya sempat meneteskan air mata ketika mendengar penuturan dari sang anak. Karena mungkin saya seperti sang anak tersebut; merasa sudah memberi perhatian lebih, sudah menjadi anak yang berbakti, membanggakan orangtua, namun siapa yang menyangka semua rasa itu ternyata tidak sesuai dengan prasangka orangtua kita yang paling jujur.

Maka sudah seharusnya, kita, ya kita ini, yang sudah menikah, berkeluarga, memiliki anak, mampu melihat ayah dan ibu kita bukan sebagai sosok yang hanya butuh dibantu dengan sejumlah uang. Karena bila itu yang kita pikirkan, apa beda ayah dan ibu kita dengan karyawan perusahaan?

Bukan juga sebagai sosok yang hanya butuh diberikan baju baru dan dikunjungi setahun dua kali, karena bila itu yang kita pikirkan, apa bedanya ayah dan ibu kita dengan panitia shalat Idul Fitri dan Idul ‘Adha yang kita temui setahun dua kali?

Wahai yang arif, yang budiman, yang penyayang dan begitu lembut hatinya dengan cinta kepada anak-anak dan keluarga, lihat dan pandangilah ibu dan ayahmu di hari tua. Pandangi mereka dengan pandangan kanak-kanak kita. Buang jabatan dan gelar serta pekerjaan kita. Orangtua tidak mencintai kita karena itu semua. Tatapilah mereka kembali dengan tatapan seorang anak yang dulu selalu bertanya dipagi hari, “Ke mana ayah, Bu? Ke mana ibu, Ayah?” Lalu menangis kencang setiap kali ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.

Wahai yang menangis kencang ketika kecil karena takut ditinggalkan ayah dan ibu, apakah engkau tidak melihat dan peduli dengan tangisan kencang di hati ayah dan ibu kita karena diri telah meninggalkan beliau bertahun-tahun dan hanya berkunjung setahun dua kali?

Sadarlah wahai jiwa-jiwa yang terlupa akan kasih sayang orangtua kita. Karena boleh jadi, ayah dan ibu kita, benar-benar telah menahan kerinduan puluhan tahun kepada sosok jiwa kanak-kanak kita; yang selalu berharap berjumpa dengan beliau tanpa jeda, tanpa alasan sibuk kerja, tanpa alasan tiada waktu karena mengejar prestasi.

Bersiaplah dari sekarang, agar kelak, ketika sang ayah dan ibu berkata jujur tentang kita dalam igauannya, beliau mengakui, kita memang layak menjadi jiwa yang diharapkan kedatangannya kapan pun juga. (FP Syekh Ali Jaber)

Kisah Tukang Roti dan Imam Ahmad Bin Hanbal dengan Istighfar

istighfar

Kisah ini terjadi pada masa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Ketika itu Imam Ahmad hendak menghabiskan malamnya di dalam masjid, akan tetapi ia terhalang untuk bermalam di dalam masjid, karena larangan penjaga masjid. Ia terus berusaha meminta izin, namun tidak membuahkan hasil. Lalu, Imam Ahmad berkata kepada si penjaga,” Saya akan tidur di tempat kakiku berpijak ini.” Dan, benar, Imam Ahmad bin Hanbal tidur di tempat kakinya berpijak. Lalu penjaga masjid mengusirnya dari lokasi masjid. Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang syaikh yang berwibawa, serta terlihat tanda-tanda keshalihan dan ketakwaan pada dirinya.

Lalu ada seorang tukang roti yang melihat Imam Ahmad. Begitu si tukang roti melihat penampilannya, ia menawarkan tempat bermalam. Maka, Imam Ahmad bin Hanbal pergi bersama tukang roti itu, dan ia begitu memuliakannya. Baca lebih lanjut