wanita pemberani

Inilah Khaulah Binti Al Azwar, seorang wanita pemberani

Alkisah, di suatu peperangan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid

Saudaranya, Dhirar bin Azwar tertawan oleh pasukan Romawi. Khalid bin Walid dan segenap pasukan muslimin pun berusaha untuk memenangkan pertarungan yang berlangsung sengit

Di tengah peperangan yang menggebu, muncullah seorang penunggang kuda yang begitu tangguh di atas kudanya

Ia merangsek maju dengan tombak di tangannya. Ia mengenakan pakaian yang menutupi sekujur tubuhnya dan hanya matanya yang terlihat

Prajurit penuggang kuda ini bertempur dengan sangat berani dan tangguh. Banyak kaum muslimin kagum dengan kemampuan bertarungnya

Ia memporak-porandakan barisan kaum Romawi. Dan membangkitkan lagi semangat kaum muslimin

Timbul pertanyaan dalam benak kaum muslimin yang menyaksikan prajurit berkuda itu

Usai peperangan, rasa penasaran masih menyelimuti benak kaum muslimin. Siapakah gerangan yang ada di balik pakaian yang tertutup itu? Sang prajurit yang gagah dan berani. Khalid bin Walid pun mendekatinya dan bertanya, ”Engkau yang selama ini membuat kami penasaran dan heran. Aku ingin engkau membuka kain yang menutupi wajahmu dan beritahulah kepada kami tentang kamu sebenarnya!”
.
Khaulah pun terdiam dan menjawab perlahan, “Wahai pimpinan kami, sesungguhnya alasan aku tidak mau memperlihatkan diriku kepadamu karena aku malu kepadamu. Engkau adalah seorang pimpinan yang agung, sementara aku hanyalah seorang wanita lemah yang harus tertutup. Sesungguhnya aku melakukan hal ini karena hatiku terbakar dan merasa sakit hati”
.
“Lalu siapakah gerangan engkau?”, tanya Khalid kembali. Khaulah pun menjawab, “Aku adalah Khaulah binti Al Azwar. Sebenarnya aku bersama para wanita yang lain. Kemudian aku mendengar berita bahwasanya saudaraku, Dhirar tertangkap. Aku pun berangkat ke medan pertempuran seperti yang engkau lihat saat ini dan berharap dapat menemukan saudaraku yang kucintai”
.
Mendengar hal itu, Khalid bin Walid pun kagum terhadap sikap dan sifat Khaulah binti Azwar

Follow @IndonesiaBertauhidID

Iklan

RIBUT

Adalah Imam Ahmad meriwayatkan hadits tentang shalat sunnah qabliyah Maghrib dan menyatakan keshahihannya. Tetapi sungguh aneh, belum pernah para muridnya menyaksikan beliau mengamalkan ibadah tersebut.

“Mengapa?”, tanya mereka.

“Sebab penduduk Baghdad telanjur mengambil pendapat Imam Abu Hanifah”, ujar beliau, “Yang menyatakan tiadanya shalat qabliyah Maghrib. Kalau aku mengamalkan hal yang berbeda, niscaya akan menimbulkan keributan di antara mereka.”

Meninggalkan suatu sunnah yang diyakini keutamaannya demi terjaganya harmoni masyarakat ternyata adalah ‘amal utama.

“Karena itu para Aimmah seperti Imam Ahmad atau yang lainnya”, demikian ditulis Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, “Menganggap sunnah apabila seorang imam meninggalkan hal-hal yang menurutnya lebih utama, jika hal itu dapat menyatukan makmum.”

“Demikian juga orang-orang yang menganggap melirihkan suara ketika membaca basmalah (dalam shalat jamaah) adalah lebih utama atau sebaliknya”, sambungnya, “Sedangkan makmum berbeda dengan pendapat atau madzhabnya, maka dia boleh mengerjakan yang kurang afdhal demi menjaga kemashlahatan persatuan. Hal ini lebih kuat dibandingkan permasalahan mana yang afdhal dari kedua perkara tersebut, dan ini adalah baik.”

Jalan sunnah adalah jalan tak suka ribut tentang khilafiyah furu’iyyah. Jalan sunnah adalah jalan yang meminta kita tak perlu tampil mencolok dan terlihat berbeda.

Imam Ahmad menekankan hal ini sampai soal berpakaian. Beliau menegur seorang yang ditemuinya di Baghdad memakai pakaian penduduk Makkah.

“Tidak cukupkah bagimu pakaian yang biasa dikenakan orang ‘Iraq?”

“Bukankah ini pakaian yang baik, pakaian dari tempat bermulanya Islam?”

“Ya”, jawab beliau, “Akan tetapi aku khawatir pakaian itu menghinggapkan rasa sombong dan aku khawatir ia adalah pakaian kebanggaan (libasusy syuhrah) yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ, karena dikenakan agar pemakainya tampak menonjol di tengah khalayak.” @salimafillah

BERKAH; SYUKUR; RIZQI; UMUR

Teruntuk kakanda terkasih, pada telinga yang peka ini mendengar bahwa tiap-tiap insan yang tertitipkan (baik istri maupun putera-puteri) ada hak bagi mereka untuk mengutarakan wasiat yang amat berat: “Bawalah kami ke surga bersamamu.” (Qs. 66: 6)

Maka pantaslah sudah, bahwa pernikahan itu merupakan mitsaqan ghaliza.

 

Namanya Luqman bin ‘Anqa’ bin Sadun. Kita kenal Luqman Al-Hakim. Begitulah ia digelari. Seorang ayah yang penuh hikmah.

Luqman bukan saudagar, ia adalah seorang laki-laki pengembala kambing dari tuannya. Kurus tubuhnya, hitam kulitnya, pesek hidungnya, amat kecil kedua kakinya. Andai ada orang yang berperawakan demikian di zaman sekarang, sungguh akan timbul ragu: perempuan mana yang sudi menerima pinangannya; keluarga mana yang bergegas meneladaninya sebagai seorang ayah sekaligus pakar pendidikan anak.

Abu ad-Darda’ r.a. berujar mengenai diri seorang Luqman: “Dia tidak diberikan anugerah berupa nasab, kehormatan, harta, pun jabatan. Namun dia adalah seorang yang tangguh, pendiam, pemikir, dan berpandangan mendalam. Dia tidak pernah terlihat oleh orang lain dalam keadaan tidur siang, meludah, berdahak, kencing, berak, menganggur, maupun tertawa seenaknya. Dia tidak pernah mengulang kata-katanya, kecuali ucapan hikmah yang diminta penyebutan kembali oleh orang lain.”

Seseorang pernah bertanya kepada Luqman: “Apa yang telah membuatmu mencapai kedudukan seperti ini?”

Luqman menjawab: “Aku tahan pandanganku; aku jaga lisanku; aku perhatikan makananku; aku pelihara kemaluanku; aku berkata jujur; aku menunaikan janji; aku hormati tamu; aku pedulikan tetanggaku; dan aku tinggalkan segala yang tak bermanfaat bagiku.”

Demikianlah Luqman. Ia bergelar Al-Hakim dan menjadi teladan di dalam Al-Qur’an bukan karena sekonyong-konyong, melainkan ada ikhtiar penuh istiqamah yang ia perjuangkan terus menerus.

Dan bagi kita meneladaninya dalam peran seorang ayah.

Sebelum para psikolog, pakar keluarga, dan berjejal motivator-motivator televisi mendengungkan pendidikan anak dengan kelembutan. Sungguh Luqman di lebih 14 abad yang lalu telah mengajari kita (sebagai seorang ayah) untuk berlembut-lembut dengan anak-anak kita.

“Ya bunayya…” di dalam qs. Al-Lukman ayat 13. Luqman meneladani sedini mungkin (meski untuk panggilan anak) harus dengan ramah lembut.

Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dan dia sedang memberi pengajaran kepadanya, “Duhai anakku tersayang (ya bunayya), janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang amat besar.” (qs. Al-Luqman: 13)

Berderet teladan Luqman sebagai seorang ayah, dapat dilihat lengkap di dalam surah tersebut dari ayat 12 hingga 19.

Sumber : https://setapaklangkah.wordpress.com

Karena Ukuran Kita Tak Sama

Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.

‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

sepenuh cinta,

Salim A. Fillah

Kesampaian

Tidak semua cita yang kesampaian itu terwujud secara zhahir. Cita untuk syahid di jalan Allah misalnya.
.
“Barangsiapa mengharapkan mati syahid dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengangkatnya sampai ke derajat para syuhada’ meski ia meninggal dunia di atas tempat tidur.” (HR Muslim)
.
Lelaki itu menatap cawan yang dihidangkan padanya. Dia tahu, minuman itu berracun. Tapi bila ditanya mengapa pasukannya begitu berjaya di hadapan Legiun Romawi yang terkenal perkasa, dia selalu berkata, “Aku membawa pasukan yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan.”
.
Maka dia memutuskan untuk meminumnya dengan sebuah doa:
.
بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم
.
“Dengan nama Allah, yang dengan asmaNya tiada kan membahayakan sesuatu apapun di langit dan di bumi dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
.
Maka tubuhnya bergeletar sebentar, matanya memerah. Tapi sebentar kemudian tenang lagi seakan tak terjadi apapun. Panglima Romawi yang hendak berlaku culas ternganga. “Racun yang kupakai, cukup untuk membunuh seratus orang”, katanya.
.
“Agar kautahu”, ujarnya. “Ruhku di tangan Allah, tiada yang dapat memajukan atau memundurkan kematian yang telah ditetapkanNya.”
.
Lelaki itu, Khalid ibn Al Walid, memegang erat pesan Khalifah yang amat mengutamakannya, Abu Bakr Ash Shiddiq. “Carilah kematian, kan kaudapati kehidupan.”
.
Di perang Mu’tah, 13 pedang patah melayani kegagahan dan kegigihan lengannya. “Apakah Tuhan menurunkan pedang ini padamu hingga kau dijuluki pedang Allah? Tapi tak ada yang istimewa dari benda ini”, ujar panglima musuh yang mengamati senjatanya.
.
“Aku hanya menunjukkan pedangnya. Bukan lengan yang mengayunnya.”
.
Sepanjang hidup dia cari kematian itu, hingga tak ada sejengkalpun bagian tubuhnya tanpa luka. Tapi di akhir, inilah dia terbaring sakit dalam sakaratul maut di ranjangnya.
.
“Mengapa harus di sini kujemput kematian, padahal sepanjang hidup kususuri medan-medan pertempuran?”, keluhnya.
.
“Karena kau pedang Allah”, jawab seorang temannya yang menahan lelehan air mata. “Takkan Dia biarkan pedangNya patah di tangan musuh-musuhNya.”
@salimafillah

Sudah Kuduga

Adalah Sayyidina ‘Umar suatu hari memanggil pembantunya. “Bawa ini kepada Abu ‘Ubaidah, dan tinggallah sejenak untuk melihat apa yang diperbuatnya dengan 4000 dirham ini.”
.
Sesampainya di kediaman Sang Amin Hadzihil Ummah, berkatalah si utusan, “Amirul Mukminin mengirimkan hadiah ini padamu, pergunakanlah sesukamu untuk segala keperluanmu.”
.
“Semoga Allah melimpahi Amirul Mukminin dengan kasih sayangNya, dan membalasnya dengan kebaikan berlipat-lipat”, ujar tuan rumah dengan sumringah. Segera dipanggilnya seorang sahaya, “Kemarilah, bantu aku membagi-bagi ini semua.”
.
Hanya sepeminum teh kemudian, utusan Khalifah menyaksikan bahwa seluruh uang hadiah itu telah berpindah tangan pada para faqir, miskin, yatim, dan rupa-rupa dhu’afa, tanpa sisa. Maka dengan mantap dia kembali dan melapor pada Tuannya.
.
Sayyidina ‘Umar menyembunyikan titik bening dan rasa basah di matanya sambil memberi perintah baru, “Sekarang bawa kantong ini pada Mu’adz ibn Jabal, lalu amati pula apa yang dilakukannya!”
.
Maka pergilah dia pada salah satu Maha Guru Quran Madinah itu. Dia juga menyaksikan Mu’adz mendoakan Khalifah dan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Abu ‘Ubaidah. Hanya di akhir, muncullah istri Mu’adz yang dengan tersipu berkata, “Kita juga termasuk orang miskin.”
.
Sang suami tersenyum padanya dan berkata, “Kalau begitu kemarilah, ini 2 dirham untuk kita.”
.
Sang utusan berbalik dan melaporkan semua itu kepada Al Faruq, dan lelaki tinggi besar itu kian kesulitan menyembunyikan bulir-bulir keharuan yang menggenangi matanya. Dengan gemetar, dia ulurkan bungkusan ketiga dan berkata, “Sekarang, antar yang ini kepada Sa’d ibn Abi Waqqash.”
.
Sejurus kemudian sang utusan telah kembali lagi untuk mempersaksikan bahwa Sa’d melakukan hal yang tak berbeda dengan 2 sahabat sebelumnya. Maka ‘Umar menyungkur bersujud syukur sambil berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membenarkan segala prasangka baikku kepada sahabat-sahabatku.” @salimafillah

Dijaga

“Tiadalah aku ingin menghadiri kesenangan para pemuda melainkan 2 kali”, tutur Nabi ﷺ.
.
“Saat aku menggembala, temanku berkata, ‘Pergilah, akan kujaga kambing-kambingmu.’ Aku berangkat hingga tepian kota, maka Allah menutup telingaku. Lalu akupun tertidur & tidak terbangun melainkan oleh sengatan mentari.” Singkat kisah, gagal yang pertama itu membuat si teman menyuruh berangkat kali kedua. Dan gagal lagi karena beliau ﷺ tertidur pula.
.
Indahnya cara Allah menjaga calon RasulNya ﷺ.
.
Mari kita periksa, bahwa jangan-jangan Allah pun menganugerahi kita penjagaan semacam itu, tentu dengan tingkatan jauh di bawah kema’shuman beliau ﷺ. Maka jangan kita marah, jangan menyesal, & mari bersyukur.
.
Mungkin kita sudah menyiapkan badan bugar agar lancar berbuat munkar. Eh tapi kemudian ditimpa lelah, sakit, kecelakaan, atau halangan lain hingga gagal. Maka jangan kita marah, jangan menyesal, & mari bersyukur.
.
Mungkin kita telah meluang-luangkan waktu agar dapat menjadwal perbuatan nista. Eh tapi kesibukan melanda, padat agenda, hingga tak jadi terlaksana. Maka jangan kita marah, jangan menyesal, & mari bersyukur.
.
Mungkin kita sudah mengumpul-ngumpulkan uang tuk membiayai hal hina, atau sia-sia. Eh tapi simpanan itu lalu hilang, atau terpakai hal lain, atau tetiba ada kebutuhan mendesak lagi banyak. Maka jangan kita marah, jangan menyesal, & mari bersyukur.
.
Mungkin kita punya gawai & perangkat yang diniati tuk berdosa, eh tapi ia ngadat di saat seharusnya, sinyalnya hilang, kuota habis, error, atau rusak. Maka jangan kita marah, jangan menyesal, & mari bersyukur.
.
Mungkin kita sudah mengayun langkah ke tempat ‘amal keji, eh tapi ternyata ia tutup, atau penuh, atau macet jalannya. Maka jangan kita marah, jangan menyesal, & mari bersyukur.
.
Mungkin kita telah merajuk untuk bermaksiat dengan seseorang, eh tapi dia ternyata menolak atau tetiba membatalkan. Maka jangan kita marah, jangan menyesal, & mari bersyukur. @salimafillah