Kepada Nama MUHAMMAD ﷺ

Seorang Syaikh yang mengajar di Jami’ah Ummul Qura, Makkah, berkisah, bahwa pada suatu pekan beliau mengisi daurah di Bosnia. Tema yang dibawakan adalah tentang kemuliaan Rasulullah ﷺ. Tampak seorang Bapak yang mengajak beberapa putranya turut hadir tak henti menangis sepanjang pemaparan. Anak-anaknya juga tunduk menyimak dengan khusyu’. Seusai daurah, Sang Syaikh menyapa si Bapak, dan beliau mengajaknya berkenalan. Masih dengan airmata berlelehan di pipi, si bapak menyampaikan betapa malunya dia kepada Rasulullah ﷺ atas cinta beliau kepada ummat. Dia sangat ingin mencintai Rasulullah ﷺ sebagaimana beliau mencintai ummatnya.

Ketika perkenalan terjadi dan nama para putra si Bapak disebutkan, Sang Syaikh bertanya dengan heran, “Kalau Anda sangat ingin mencintai Rasulullah, mengapa tak satupun di antara putra Anda diberi nama Muhammad?” “Justru karena aku sangat ingin menghormati Rasulullah ﷺ”, jawab si Bapak terbata dan berkaca-kaca, “Aku tak menamai mereka dengan nama beliau ﷺ. Sebab aku takut, jika suatu kali aku marah kepada mereka, aku akan memanggil nama mereka dengan kasar, atau menghardik, atau membentak. Sungguh, nama Muhammad ﷺ terlalu mulia untuk diseru dengan intonasi keras ataupun nada tinggi. Demi Allah ya Syaikh, aku malu. Aku tidak berani.” Kini ganti sang Syaikh berkaca-kaca kala bercerita. “Wahai Bapak, bagaimanakah kami ini di negeri kami? Kami memanggil dan membentak semua orang, dari pelayan rumah makan hingga tukang sapu dengan berteriak, “Muhammad!” Duhai, di manakah kita dalam cinta? @salimafillah

Iklan