PADA SUATU TITIK

Pada suatu titik ketika bandul kezhaliman menyimpang melampaui batasnya, Allah punya cara untuk memberinya ayunan pembalik yang tak kalah dahsyatnya.

Adalah Abu Jahl melecehkan Muhammad ﷺ di depan khalayak dengan hinaan, cercaan, dan kutuk yang angkara, maka Hamzah yang selama ini masih ragu dan membiarkan perjuangan keponakannya berjalan alami sahaja dilanda murka. Menunggang kuda dan berthawaf tanpa menurunkan busur serta buruannya, dia lalu hantam kepala Abu Jahl hingga berdarah dengan ujung gandewa, dan dengan kata-kata menyala mengumumkan keislamannya.

Pada satu titik, setiap simpangan pasti berbalik.

Seperti ketika kebencian ‘Umar kepada Muhammad ﷺ telah memuncak dan nyaris meledak di ubun-ubunnya. Petang itu, dia telah membulatkan tekad untuk membunuh lelaki jujur yang dia anggap berubah menjadi pemecah belah Makkah sejak beberapa tahun belakangan, yang memisahkan suami dari istri, anak dari bapak, dan karib dari kerabat karena keyakinan mereka. Dia malah berbelok ke rumah adiknya, dan darah yang mengaliri wajah suami istri Fathimah-Sa’id dari tamparannya, membuatnya rela mendengarkan Kalam. Dia lalu bergegas ke rumah Al Arqam, bukan untuk membunuh, melainkan untuk menjadi Al Faruq yang gelegar semangatnya menggigilkan Musyrikin di keesokan harinya.

Pada suatu titik, setiap simpangan pasti berbalik.

Seperti ketika Suhail ibn ‘Amr memaksa dihapusnya nama “Arrahmanirrahim” dan sebutan “Rasulullah ﷺ” dari naskah Hudaibiyah, maka justru peristiwa itu ditandai oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dengan turunnya firman, “Sesungguhnya Kami telah bukakan untukmu kemenangan yang gilang gemilang.” Dan jumlah orang yang berbondong masuk Islam dalam 4 tahun berikutnya berribu kali lipat dibanding 19 tahun penuh darah dan airmata yang telah lewat.

Maka kita katakan kepada semua tiran lacut dan penganiaya ummat, terus-teruskan sahaja jika kalian memang mengingini kezhaliman bersimaharajalela, tapi sekeras kalian mengayun, sebegitupun ia akan berbalik tanpa ampun. @salimafillah

Iklan

MALCOLM X

“Dan sesungguhnya ‘amal-‘amal itu ditentukan oleh penutupnya.” (HR Ahmad)

Malcolm X adalah nama yang menyejarah tentang kelamnya hidup di alam zhalim rasisme, nistanya diri yang kehilangan arah, berlikunya jalan menuju cahaya, panjangnya masa ketertipuan oleh lentera palsu, dan singkatnya manis iman bersama kebenaran sejati.

Tapi sependek apapun, itulah penutup indah, husnul khatimah, yang membuat nama Hajj Malik Al Syabaz abadi sebagai da’i Amerika yang membawakan hidayah Islam dan berjuta orangpun mendoakannya.

Lahir di Omaha, Nebraska, 19 Mei 1925, saat dia masih kecil ayahnya dinyatakan mati kecelakaan, dengan kesaksian beberapa orang menyebut kelompok rasis kulit putihlah yang mendorongnya hingga tertabrak trem. Tunjangan tak dibayarkan, hidup berpindah-pindah dalam ancaman Ku Klux Klan, ibunya mengalami gangguan jiwa, lalu dia dan saudara-saudaranya harus pindah dari satu panti asuhan ke rumah yatim yang lain.

Menjadi peraih nilai terbaik di sekolahnya, sang guru berkata padanya, “Cita-citamu menjadi pengacara, mustahil untuk seorang kulit hitam.” Diapun keluar dan memulai berbagai kejahatan terhadap kulit putih, pencurian, kekerasan, bahkan menurut biografi terbarunya jatuh pula dalam kenistaan hubungan sejenis karena kesulitan ekonomi. Fase terkelam hidup ini diakhiri dengan vonis 10 tahun penjara. Dan dari penjara itu, dia mengenal Nation of Islam.

Begitu keluar, dia bergabung dengan organisasi yang dipimpin oleh Elijah Muhammad itu dan menjadi juru bicara utamanya yang begitu karismatik. Ajaran Nation of Islam selain ‘diwarnai sedikit’ nilai Islam, justru meliputi pula supremasi kulit hitam yang adalah insan asli bumi, kulit putih itu iblis, dan bahwa Elijah adalah Nabi yang diutus sebagai Juru Selamat. Selama 12 tahun, Malcolm mendakwahkan hal batil ini, dan interaksinya yang kian luas membuat dia diajak berdiskusi oleh para muslim sunni dari Timur Tengah dan Afrika. “Pada usiaku yang ke-39”, ujar Malcolm seperti ditulis dalam Autobiografinya yang disunting Alex Haley, “Aku berada di kota suci Makkah. Saat itulah, untuk pertamakali dalam hidupku, aku berdiri di hadapan Yang Mahakuasa dan merasa menjadi manusia utuh.” “Perjalanan haji telah membuka cakrawala berpikirku. Allah menganugerahkan cara pandang baru selama 2 pekan di Tanah Suci. Aku melihat hal yang tak pernah kulihat selama 39 tahun hidup di Amerika Serikat. Aku melihat semua ras dan warna kulit bersaudara, beribadah kepada satu Tuhan tanpa menyekutukanNya. Benar pada masa lalu aku bersikap benci pada semua orang kulit putih namun itu karena ketidaktahuan. Sekarang aku tahu bahwa ada orang kulit putih yang ikhlas dan mau bersaudara dengan orang negro. Kebenaran Islam telah menunjukkan kepadaku bahwa kebencian membabi buta kepada semua orang putih adalah sikap salah sepertihalnya jika sikap itu dilakukan orang kulit putih terhadap orang negro.” Pangeran Mahkota Faisal ibn ‘Abdil ‘Aziz Al Sa’ud menerima Malcolm sebagai tamu negara. Seperti penghormatan yang diterimanya dari pemimpin berbagai negara ketika masih menjadi pemimpin Nation of Islam, seusai haji dia diminta berkeliling mengunjungi Mesir, Ethiopia, Tanganyika, Nigeria, Ghana, Guinea, Sudan, Senegal, Liberia, Aljazair, dan Maroko. Dalam perjalanan pulang dia mampir di Perancis dan Inggris di mana pidatonya tentang Islam dan perjuangan kesetaraan disambut riuh.

Malcolm X akhirnya mendirikan Muslim Mosque Inc., dan Organization of Afro-American Unity pada 28 Juni 1964. Pada 21 Februari 1965, pada saat akan memberi ceramah di sebuah hotel di New York, Malcolm X tewas diujung peluru tiga orang Afrika-Amerika yang ironisnya dia perjuangkan nilai-nilai dan hak-haknya. Para fanatis Nation of Islam diduga berada di balik pembunuhannya.

Meski dia wafat di usia yang baru 39 tahun dan baru amat sebentar membaktikan diri bagi dakwah, gaung perjuangan Malcolm terus bergema. Atas pengaruh Malcolm, Warith Deen Muhammad yang menggantikan Ayahnya memimpin Nation of Islam pada 1975 membubarkan perkumpulan itu, lalu pada 1978 memimpin ratusan ribu anggotanya hijrah menjadi muslim sunni sejati, menjadikan tahun itu sebagai “tahun muallaf” terbesar sepanjang sejarah dakwah di AS. Sesungguhnya ‘amal-‘amal kita dilihat di penghujungnya. @salimafillah

Membantah

Pada satu waktu, seusai berburu, Raja Jin Weng Gong dari Negeri Jin ingin menyantap daging panggang yang empuk namun tak berlemak. Maka koki istana pun diperintahkan untuk segera memasak rusa hasil buruannya. Tak berapa lama, daging panggang itu telah siap disajikan. Warnanya keemasan dan harumnya semerbak. Sang raja tak tahan untuk segera mencicipinya.

Tetapi mata sang raja membelalak saat mengangkat potongan daging panggang itu. Pandangannya yang awas melihat ada sehelai rambut panjang tergeletak mengurai. Nafsu makannya hilang. Kemarahannya meluap. “Pengawal!”, teriaknya gusar, “Seret juru masak istana kemari! Aku pasti memenggal lehernya karena kecerobohan tak termaafkan ini!” Sang juru masak yang dihadapkan pada Jin Wen Gong segera jatuh berlutut memohon ampun.

Tapi sekilas diamatinya daging panggang yang tadi dimasaknya itu. “Hamba telah berbuat kesalahan yang berat! Hamba pantas dihukum mati, Baginda!” Melihat amarah sang raja masih mengubun-ubun, sang juru masak melanjutkan kata-katanya. “Kesalahan hamba ada tiga”, akunya. “Pertama, hamba memotong daging itu terlampau cepat! Dagingnya terpotong tetapi rambutnya tidak ikut putus. Yang kedua, untuk membuat rasanya mantap, hamba memutar daging itu dan membumbuinya di atas panggangan berulang-ulang, tetapi rambutnya tak mau jatuh. Ketiga, agar dagingnya empuk merata, bara api untuk memanggangnya hamba buat sangat panas. Hamba sungguh teledor, dagingnya empuk merata akan tetapi rambut ini tak hangus terpanggang! Saya sungguh pantas mati, mohon Paduka menghukum saya!”

Mendengar kata-kata pelayannya, sang raja terbahak-bahak. Dia mengerti. Juru masak ini tak bersalah. Pasti ada seseorang yang sengaja ingin mencelakakannya dengan cara meletakkan rambut itu sesudah dagingnya matang dan siap disajikan. “Pengawal!”, seru raja, “Panggil pelayan yang menghidangkan daging ini!” Keterampilan berkomunikasi adalah kunci.

Sumber : @salimafillah