Sarapan

Adalah muallif kitab Tafsir Al Ibriz, Allahuyarham Kyai Bisyri Mustofa (Ayahanda Gus Mus), memiliki satu kebiasaan yang beliau nasehatkan pada para muballigh yang ke sana-kemari mengisi pengajian. “Makanlah dulu”, ujar beliau, “Agar hati kita tak berharap mendapat suguhan.”

Ini rupanya bagian dari falsafah hidup beliau yang diistilahkan sebagai “ihtiraas”. Ini bukan sekedar wara’, yang bagai jurus melipir menghindar dari yang haram, syubhat, ataupun mubah namun berlebihan. Ihtiraas lebih seperti benteng yang melindungi diri dari aneka serangan lawan yang jelas adalah syaithan.

Di zaman ketika banyak tokoh politik mendatangi para kyai pengasuh pesantren dan memberi hadiah yang tentu harus dibayar dengan dukungan atau setidaknya sikap diam terhadap penyimpangan, beliau membeli beberapa mobil sekaligus yang dijajarkan di halaman. Tak banyak yang tahu, mobil-mobil itu sebenarnya hanya 1 yang bisa jalan. Yang lain hanya ‘rongsokan’ yang dipoles agar layak dipandang.

“Buat apa?”, tanya orang dekatnya. “Biar dikira kaya.” “Kalau sudah dikira kaya terus kenapa?” “Biar tidak ditawari uang.” “Lha kalaupun ditawari kan tinggal ditolak.” “Lha aku khawatirnya kalau pas ditawari, akunya lagi punya kebutuhan. Lebih aman kalau dikira kaya biar tidak usah ditawari sekalian.”  (sumber : @salimafillah)

Allahu Akbar. Yaa Allah, ampunilah kami yang rakus pada dunia…