Penjual Bunga

Sebagai istri saya tentu ingin disayang suami. Belajar masak, rajin bersih-bersih rumah, berlaku lembut penuh cinta kepada suami, dan berusaha hemat dalam penggunaan uang belanja biar disebut istri cerdas dan yang tersayang.

Setiap kali belanja kemanapun, saya pasti ngotot berusaha menawar dagangan dengan harga semurah mungkin. Diskon seribu dua ribu saya kejar, padahal energi yang dikeluarkan untuk tawar-menawar panjang bisa lebih dari itu.

Suatu sore setelah lelah keliling pasar, di perjalanan menuju parkiran mobil seorang pedagang tanaman bunga yang berusia sepuh menawarkan dagangannya:

*Pedagang:* “Neng, beli neng dagangan bapak, bibit bunga mawar 5 pot cuma 25.000 per pot”
Tadinya saya cuek, tapi tiba-tiba teringat pekarangan mungil di rumah yang kosong, wah murah nih pikir saya, cuma 25.000/pot, tapi ah pasti bisa ditawar.
*Saya:* “Ah mahal banget pak 25.000, udah 10.000/pot,” dengan gaya cuek saya menawar sadis.
*Pedagang:* “Jangan neng, ini bibit bagus. Bapak jual udah murah, 15.000 aja gimana neng bapak udah sore mau pulang.”

Saya ragu sejenak, memang murah sih. Di toko, bibit bunga mawar paling tidak 45.000 harga 1 pot nya. Tapi bukan saya dong kalau tidak berjuang.
*Saya:* “Halah udah pak, 10.000 ribu aja 1 kalau gak dikasih ya gak apa-apa,” saya berlagak hendak pergi.
*Pedagang:* “Eh neng…,” dia ragu sejenak dan menghela nafas. “Ya sudah neng gak apa-apa 10.000, tapi neng ambil semuanya ya, bapak mau pulang udah sore.”
*Saya*: (Saya bersorak dalam hati. Yeee…menang) “Oke pak, jadi 50.000 ribu ya untuk 5 pot. Bawain sekalian ya pak ke mobil saya, tuh yang di ujung parkiran.”

Saya pun melenggang pergi menyusul suami yang sudah duluan. Si bapak pedagang mengikuti di belakang. Sesampainya di parkiran, si bapak membantu menaruh pot-pot tadi ke dalam mobil, saya membayar 50.000 lalu si bapak tadi segera pergi. Lalu terjadilah percakapan berikut dengan suami,

Saya: “Bagus kan yang, aku dapet 5 pot bibit bunga mawar harga murah.”
Suami: “Oohh..berapa kamu bayar ?”
Saya: “50 ribu.”
Suami: “Hah…!!! Itu semua 5 pot ?” dia kaget
Saya: “Iya dong… hebat kan aku nawarnya ?
Tadi Dia nawarinnya 25.000 1 pot,” saya tersenyum lebar dan bangga.
Suami: “Gila kamu, sadis amat. Pokoknya aku gak mau tahu. Kamu susul itu si bapak sekarang, kamu bayar dia 125.000 tambah upah bawain ke mobil 25.000 lagi. Nih, kamu kejar kamu kasi dia 150.000 !” Suami membentak keras dan marah, saya kaget dan bingung.
Saya: “Tapi…kenapa..?”
Suami: Makin kencang ngomongnya, “Cepetan susul sana, tunggu apa lagi.”

Tidak ingin dibentak lagi, saya langsung turun dari mobil dan berlari mengejar si bapak tua. Saya lihat dia hendak naik angkot di pinggir jalan.
Saya: “Pak……tunggu pak…”
Pedagang: “Eh, neng kenapa ?”
Saya: “Pak, ini uang 150.000 pak dari suami saya katanya buat bapak, bapak terima ya, saya gak mau dibentak suami, saya takut.”
Pedagang: “Lho, neng kan tadi udah bayar 50.000, bener kok uangnya,” si bapak keheranan.

Saya: “udah bapak terima aja. Ini dari suami saya. Katanya harga bunga bapak pantesnya dihargain segini,” sambil saya serahkan uang 150.000 ke tangannya.
Pedagang: Tiba-tiba menangis dan berkata, “Ya Allah neng…makasih banyak neng…ini jawaban do’a bapak sedari pagi, seharian dagangan bapak gak ada yang beli, yang noleh pun gak ada. Anak istri bapak lagi sakit di rumah gak ada uang buat berobat.

Pas neng nawar bapak pikir gak apa-apa harga segitu asal ada uang buat beli beras aja buat makan. Ini bapak mau buru-buru pulang kasian mereka nunggu. Makasih ya neng…suami neng orang baik. Neng juga baik jadi istri nurut sama suami, Alhamdulillah ya Allah. Bapak pamit neng mau pulang…,” dan si bapak pun berlalu.
Saya: (speechless dan kembali ke mobil).

Sepanjang perjalanan saya diam dan menangis, benar kata suami, tidak pantas menghargai jerih payah orang dengan harga semurah mungkin hanya karena kita pelit. Berapa banyak usaha si bapak sampai bibit itu siap dijual, tidak terpikirkan oleh saya. Sejak itu, saya berubah dan tak pernah lagi menawar sadis kepada pedagang kecil manapun. Percaya saja bahwa rejeki sudah diatur oleh Tuhan.

Jangan memperlakukan orang lain semena-mena.

Sumber : WA Group

Makan

Apakah yang menjadikan makan terasa begitu istimewa? Barangkali rasa lapar sekaligus siapa kawan bersantapnya.

Saya duga, perjalanan jauh dan kehati-hatian untuk tak sembarang mengudap telah membuat seorang lelaki mulia dalam kunjungannya ke Baghdad kali itu amat keroncongan.

Maka anak-anak Imam Ahmad ibn Hanbal melihat betapa setelah mereka usai makan bersama, si tamu ini menghimpun semua makanan yang tersisa dari tiap wadah ke dalam piringnya dan menghabiskan semuanya. Semuanya.

Lalu diapun beranjak ke pembaringan. Ketika di sepertiga akhir malam Imam Ahmad membangunkan keluarganya untuk qiyamullail, sang tamu tetap tak turun dari peraduannya. Hingga adzan berkumandanglah, maka dia bangkit dari tempat tidur dan berangkat ke Masjid menunaikan Sunnah Fajar dan Shalat Shubuh tanpa berwudhu’. Tanpa berwudhu’. Tamu ini aneh sekali, pikir putra-putra Imam Ahmad ibn Hanbal. Pertama, makannya banyak sekali. Kedua, tidur semalaman tanpa bertahajjud. Dan ketiga, mengerjakan Shalat Shubuh tanpa bersuci.

Imam Ahmad tersenyum mendengar keberatan putranya. Tapi beliau meminta mereka bertanya sendiri pada sang tamu yang anggun berwibawa. “Pertama”, begitu jawabnya, “Aku yakin bahwa rizqi di rumah keluarga ini adalah salah satu yang tersuci di muka bumi. Maka takkan kusia-siakan keberkahan dari makanan yang disajikan darinya. Jadi kuhabiskan semua.” “Kedua”, sambungnya, “Sebenarnya aku tidak tidur, Nak. Semalaman aku merenungkan hadits Rasulillah ketika beliau bersabda pada putra Abu Thalhah yang masih kecil, ‘Yaa Aba ‘Umair, maa fa’alan nughair? Wahai Abu ‘Umair, apa yang dilakukan temanmu si burung mungil?’, dan darinya telah kuistinbathkan lebih dari tujuh puluh hukum syari’at.” “Aku juga memilih menyelesaikan tafakkurku”, lanjutnya sambil tersenyum, “Dibanding shalat malam, sebab telah sampai riwayat padaku, ‘Satu ayat dari ilmu, lebih baik daripada seratus raka’at shalat sunnah.’ Maka karena aku semalaman tidak tidur, wudhu’ku sejak ‘Isya’ belum batal dan dapat kugunakan dalam Shalat Shubuh. Sungguh, menghemat air temasuk kebaikan.” Tamu ini, Muhammad ibn Idris Asy Syafi’i.

Orang yang Imam Ahmad rela menyambutnya di gerbang kota lalu menuntun baghalnya sampai ke rumah hingga dia ditegur koleganya, Yahya ibn Ma’in sebagai “merendahkan ilmu hadits”. Apa jawab Imam Ahmad? “Katakan pada Yahya, jika dia menginginkan kemuliaan seperti ini, marilah ke sini; dia tuntun tunggangan Asy Syafi’i di kanan, aku sebelah kiri.” Tamu ini, Muhammad ibn Idris Asy Syafi’i. Orang yang kelak hingga empatpuluh tahun lamanya namanya tersebut dalam doa sang tuan rumah, hingga putri kecilnya bertanya, “Siapakah dia?” Dan apa jawab Imam Ahmad? “Asy Syafi’i adalah mentari bagi siangnya hari dan obat penyembuh bagi sakitnya tubuh. Maka siapa yang tak memerlukan keduanya?”@salimafillah

Saling Mehormati

“Suatu kali”, demikian dihikayatkan Imam Tajuddin As Subki dalam Thabaqatusy Syafi’iyyah Al Kubra, “Seorang perempuan mendatangi majlis ilmu yang dihadiri oleh para Imam ahli hadits. Di antara mereka terdapatlah Imam Yahya ibn Ma’in, Imam Abu Khaitsamah, Khalaf ibn Salim, dan banyak lagi yang lain. Mereka saling menyebutkan hadits, mentartibkan sanad-sanadnya, dan membilang keragaman matannya.” Ketika mereka sedang saling berbagi hadits, tetiba perempuan itu menyela. “Wahai para berilmu”, ujarnya, “Aku adalah seorang wanita yang bekerja sebagai tukang memandikan jenazah. Bagaimanakah hukumnya untukku jika harus memandikan jenazah ketika aku sedang dalam keadaan haidh?” Semua ‘ulama besar yang hadir waktu itu tidak ada yang mampu menjawab. Mereka jadi saling berpandangan satu sama lain. Dalam benak mereka, tak satupun hadits yang dapat digunakan langsung untuk menjawab persoalan itu.

Ketika majelis itu terjeda hening karena tetap tak ada jawaban yang dinantikan, tetiba masuklah Imam Abu Tsaur, murid Imam Asy Syafi’i. Di antara ‘ulama yang ada di sana pun lalu menunjuk ke arah beliau sembari berkata kepada tukang memandikan jenazah tersebut, “Tanyakanlah kepada orang yang baru datang itu, sebab dia adalah murid dari pemilik akal separuh penduduk dunia.”

Perempuan itupun menoleh dan mendekat kepada sang Imam. Ditanyakannyalah hal serupa yang sungguh merisaukan dirinya, “Bolehkah wanita haidh memandikan jenazah?” Imam Abu Tsaur tersenyum. “Tentu saja boleh, tidak ada masalah”, ujarnya. “Kamu boleh memandikan jenazah itu dengan dalil hadits yang diriwayatkan oleh ‘Utsman bin Al Ahnaf, dari Al Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr, dari ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘Anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Adapun haidhnya dirimu bukanlah berada di tanganmu.” Dan juga berdasarkan perkataan Ibunda kita ‘Aisyah, “Aku pernah menyirami, membasuh, dan membersihkan kepala Rasulullah dengan air lalu menyela-nyelai rambut beliau, menyisir, serta meminyakinya. Padahal waktu itu aku dalam keadaan haidh.” “Apabila kepala orang hidup saja, dan bahkan adalah Nabi”, simpul Imam Abu Tsaur, “Boleh disiram, dibasuh, dan dibersihkan oleh wanita yang sedang haidh, apalagi orang yang sudah mati. Tentu kebolehannya lebih jelas lagi.” Mendengar jawaban yang sangat jeli itu, serta-merta para ahli hadits yang hadir waktu tersebut berebutan membacakan hadits yang telah disebutkan oleh Abu Tsaur dari segala thuruq atau jalur periwayatan yang ada pada mereka. Salah satunya berkata, “Telah menceritakan si Fulan kepadaku..” Yang lain menimpali, “Kami mengenalnya melalui riwayat si Fulan..” Sampai akhirnya mereka membahas derajat berbagai macam riwayat hadits tersebut.

Melihat hal ini, si tukang memandikan jenazah berkata heran, “Aduhai.. Ke mana saja kalian sebelum ini?” Kisah ini sama sekali bukan dalam rangka merendahkan kedudukan para Imam Ahlil Hadits yang mulia. Tidak. Ini hanya, gambaran penting atas apa yang disampaikan Al Imam Asy Syafi’i. Beliau menyatakan bahwa Ahli Fiqih bagaikan dokter yang bukan hanya tahu tentang khazanah obat, melainkan juga kondisi pasiennya. Sementara itu para Ahli Hadits adalah apotekernya.

Sudah seharusnya mereka bekerjasama, bukan saling menjauh dan saling mengatakan bahwa yang satu tak paham obat, yang lain tak mengerti pasien.

Atau mengatakan bahwa Ahli Fiqih banyak membuat bid’ah, padahal sebenarnya pendapat mereka berdasar sumber yang shahih tapi disesuaikan dosisnya dengan kondisi masyarakat pada waktu dan tempat tertentu. Atau mengatakan bahwa Ahli Hadits menyusahkan orang, padahal mereka memang hanya memberikan obat dengan dosis yang belum ditulis. @salimafillah

Pendapat Ulama

Adalah Imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang keluar darah dari bagian tubuhnya, maka wudhu’nya batal. Maka suatu hari beliau ditanya, “Apakah engkau akan tetap melanjutkan shalat di belakang Imam yang hidungnya mimisan?” “Subhanallah”, sahut beliau, “Bagaimana mungkin aku tak mau shalat di belakang Ats Tsauri, Al Auza’i, dan Imam Malik?” Masyaallah. Ini karena Imam Sufyan Ats Tsauri, Imam Al Auza’i, dan Imam Malik rahimahumullah berpendapat bahwa keluar darah semacam ini tidaklah membatalkan wudhu’. Hadhratusy Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari menulis satu pendapat di jurnal yang diterbitkan NU tentang hukum pemakaian kenthongan untuk memanggil shalat. Beliau menyatakan, jika bedhug masih ditoleransi karena adanya hadits tentang kebolehan menabuh ‘duff’, maka kenthongan sungguh merupakan bid’ah sebab tidak ada dalil yang dapat mengukuhkannya.

Beliau juga menyatakan, jika orang Yahudi mempergunakan terompet dan orang Nashrani mempergunakan lonceng, ummat Islam tidak perlu tasyabbuh dengan bebunyian semacam kenthongan untuk memanggil shalat. Adzan telah cukup.

Adalah Wakil Rais Akbar, KH Muhammad Faqih Maskumambang menulis artikel pada jurnal yang sama di edisi berikutnya, menyatakan bahwa hukum kenthongan adalah “tidak mengapa”. Pertama, karena hukumnya diqiyaskan dengan hukum bedhug. Kedua, karena syarat tasyabbuh tudak terpenuhi. Ketiga, karena pemukulan kenthongan dan bedhug itu terpisah dari pengucapan lafazh adzan, yakni sebelumnya, bukan menyatu dengannya, maka ia bukan bid’ah. “Baru disebut bid’ah”, tegas Kyai Faqih, “Kalau pengumandangan adzan itu bersamaan diiringi tetabuhan dari bedhug dan kenthongan.” Jadi bila lafazh keagungan Allah ditingkahi bunyi “Thok thek thok brung gedhebrung brung..”, itu baru bid’ah. Lha ini kan terpisah.

Pada suatu hari Mbah Hasyim diundang hadir ke Pesantren Maskumambang. Maka sejak tiga hari sebelum acara, Kyai Faqih mengutus banyak santri menemui para Takmir Masjid se-Gresik agar berkenan mencopoti bedhug dan terlebih kenthongan mereka lalu menyembunyikannya sementara demi menghormati Mbah Hasyim.

@salimafillah

Ribut

Adalah Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits tentang shalat sunnah qabliyah Maghrib dan menyatakan keshahihannya. Tetapi sungguh aneh, belum pernah para muridnya menyaksikan beliau mengamalkan ibadah tersebut. “Mengapa?”, tanya mereka. “Sebab penduduk Baghdad telanjur mengambil pendapat Imam Abu Hanifah”, ujar beliau, “Yang menyatakan tiadanya shalat qabliyah Maghrib. Kalau aku mengamalkan hal yang berbeda, niscaya akan menimbulkan keributan di antara mereka.” Meninggalkan suatu sunnah yang diyakini keutamaannya demi terjaganya harmoni masyarakat ternyata adalah ‘amal utama. “Karena itu para Aimmah seperti Imam Ahmad atau yang lainnya”, demikian ditulis Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, “Menganggap sunnah apabila seorang imam meninggalkan hal-hal yang menurutnya lebih utama, jika hal itu dapat menyatukan makmum.”

“Demikian juga orang-orang yang menganggap melirihkan suara ketika membaca basmalah (dalam shalat berjamaah) adalah lebih utama atau sebaliknya”, sambungnya, “Sedangkan makmum berbeda dengan pendapat atau madzhabnya, maka dia boleh mengerjakan yang kurang afdhal demi menjaga kemashlahatan persatuan. Hal ini lebih kuat dibandingkan permasalahan mana yang afdhal dari kedua perkara tersebut, dan ini adalah baik.” Jalan sunnah adalah jalan tak suka ribut tentang khilafiyah furu’iyyah. Jalan sunnah adalah jalan yang meminta kita tak perlu tampil mencolok dan terlihat berbeda.

Adalah Imam Ahmad ibn Hanbal menekankan hal ini sampai soal berpakaian. Beliau menegur seorang yang ditemuinya di Baghdad dalam keadaan memakai pakaian penduduk Makkah. “Tidak cukupkah bagimu pakaian yang biasa dikenakan orang ‘Iraq?” “Bukankah ini pakaian yang baik, pakaian dari tempat bermulanya Islam?” “Ya”, jawab beliau, “Akan tetapi aku khawatir pakaian itu menghinggapkan rasa sombong dan aku khawatir ia adalah pakaian kebanggaan (libasusy syuhrah) yang dilarang oleh Rasulullah, karena dikenakan agar pemakainya tampak menonjol di tengah khalayak.”

@salimafillah

Beginilah kami diperintahkan

Dua orang faqih dari kalangan sahabat, ‘Abdullah ibn ‘Abbas dan Zaid ibn Tsabit, berbeda pendapat dalam banyak masalah. Salah satunya soal faraidh atau penghitungan waris.

Menurut Ibn ‘Abbas, sebagaimana bagian cucu sama dengan bagian anak ketika dia tiada, maka bagian kakek sama dengan ayah kala dia tiada, dan adanya kakek menghijab hak saudara. Tidak demikian menurut Zaid. Bagi penulis wahyu kebanggaan Anshar ini, kakek berkedudukan sama dengan saudara.
“Aku berani bermubahalah dengan Zaid”, ujar Ibn ‘Abbas suatu ketika. ”Bagaimana mungkin dia bedakan bagian kakek dengan ayah, tapi tetap samakan bagian anak dengan cucu?” Tapi ketika ada kerabat Ibn ‘Abbas meninggal dan muncul persoalan waris yang harus diselesaikan dengan memilih pendapatnya atau pendapat si faqih Anshar; beliau justru mengundang Zaid untuk dimintai fatwa dalam menyelesaikannya. Sebab dia tahu, si mayyit selama hidupnya lebih sering hadir di majelis Zaid dibanding majelisnya.

Zaid pun datang. Setelah mendengar penuturan dari keluarga tentang susunan para Ahli waris, beliau memutuskan perhitungannya menurut pendapat Ibn ‘Abbas, bukan pendapatnya, sebab beliau tahu orang ini berkerabat dekat dengan Faqihnya ummat.

Ketika Zaid pamit, Ibn ‘Abbas bergegas menjajari tunggangan Zaid dan menuntun baghal sang Mufti kota Nabi sembari berjalan kaki. Penuh ta’zhim beliau bermaksud mengantar Zaid hingga ke rumahnya. Zaidpun merasa tak enak hati dan “Tak usah begitu duhai putra Paman Rasulillah ﷺ” ujarnya, “Aku malu jika kau yang menuntun kendaraanku!”
“Beginilah kami diperintahkan”, ujar Ibn ‘Abbas sambil tersenyum, “Untuk memuliakan para ‘ulama kami.”
“Kalau begitu”, tukas Zaid, “Perlihatkanlah tanganmu duhai sepupu Rasulillah ﷺ!”

Maka Ibn ‘Abbas pun menunjukkan tangannya dan segeralah Zaid mencium serta mengecupnya dengan penuh pemuliaan. Ibn ‘Abbas amat terkejut atas perlakuan ini dan menegur Zaid, “Apa ini wahai sahabat Rasulillah ﷺ? Apa ini wahai penulis Al Quran dan faqihnya Anshar?” Maka Zaid tersenyum. “Beginilah kami diperintahkan, jelasnya, “Untuk memuliakan keluarga dan Ahli Bait Rasulillah ﷺ.”

@salimafillah

Menikahi Ilmu

“Mengapa akhir-akhir ini tak kulihat engkau di majelisku?”, tanya Sa’id ibn Al Musayyib, mahaguru para Tabi’in di Madinah pada ‘Abdullah ibn Abi Wada’ah. “Istriku baru meninggal karena sakit wahai Syaikh”, ujar anak muda itu, “Aku sibuk mengurusnya hingga tak sempat duduk menadah ilmumu. Maafkan aku.” Wajahnya kuyu dan lelah. Setiap yang melihatnya akan langsung mengenali tanda-tanda kefakirannya.

Seusai mengajar, Imam Sa’id ibn Al Musayyib menggamit lengan ‘Abdullah dan berbisik padanya, “Sebaiknya engkau segera menikah lagi agar dirimu terjaga dan hidupmu tertata.” “Siapakah yang akan mau menikahkan putrinya dengan duda fakir sepertiku?”, sahut ‘Abdullah dengan senyum jujur. “Hanya ada dua atau tiga dirham yang jadi kekayaanku.” “Aku”, sahut Sang Imam.

Sang pemuda terenyak takjub. Bukankah masyhur bahwa beliau hanya punya seorang putri dan lamaran pada gadis itu dari Khalifah ‘Abdul Malik ibn Marwan bagi putranya pun telah ditolak Sang Syaikh? “Jangan mencandaiku wahai Guru”, kata ‘Abdullah.

Tapi Sa’id ibn Al Musayyib bukanlah ‘Alim yang suka bercanda. Hari itu juga ‘Abdullah diakadkan dengan putrinya. Masih setengah tak percaya, si mempelai pria pulang ke rumahnya. Maghrib tiba dan diapun bersiap ifthar dari puasa sunnahnya. Hanya ada sekerat roti keras, garam, dan minyak di sana. Dan tetiba pintu diketuk. “Siapa di luar?” “Sa’id.” Tak ada Sa’id lain yang dikenalnya selain guru yang sekaligus kini adalah mertuanya. Maka dia bergegas membuka pintu. “Jika kau ada perlu, mengapa tak kaupanggil aku saja wahai Guru?” “Tidak. Demi Allah. Ke mana engkau wahai ‘Abdullah? Mengapa tak kaubawa istrimu ke rumahmu? Sungguh tak baik seorang lelaki melewatkan malam tanpa seorang istri. Inilah dia kuantarkan putriku padamu.” Dengan begitu kikuknya, ‘Abdullah masuk dan menyilakan istrinya duduk. Dengan gugup dia menyembunyikan menu makan malamnya yang sangat membuatnya malu. Lalu dia menyelinap memberitahu beberapa tetangga. “Sa’id ibn Al Musayyib telah menikahkanku dengan putrinya, dan kini gadis itu telah berada di rumahku. Celaka aku. Apa yang harus kulakukan?”

“Celaka engkau”, sahut seorang Ibu paruh baya tetangga baiknya, “Jangan kau mendekat padanya sebelum aku mendandani dan menghiasnya. Dan kau pergilah mandi serta pakai pakaian yang layak.” “Aku akan menyiapkan hidangan ala kadarnya agar dapat kauundang para tetangga dan mengumumkan pernikahanmu dalam walimah sederhana”, ujar tetangga yang lain.

Maka berlalulah malam-malam pertama ‘Abdullah ibn Abi Wada’ah dengan begitu indah. “Satu pekan kulewati hidup baru bersama istriku seakan diriku berada di taman-taman surga. Lalu di hari ketujuh, akupun meminta izin pada istriku untuk keluar.” “Mau ke mana wahai suamiku tersayang?” “Ke majelis ilmunya guruku, Sa’id ibn Al Musayyib.” “Tetaplah di rumahmu”, sahut istrinya sembari memeluknya, “Karena semua ilmu Ayahku telah ada pada diriku. Hari ini kau mau belajar apa?” ‘Abdullah pun tersenyum bahagia.

@salimafillah