Hujan Rindu

Jarak dan waktu menyembunyikan kecantikanmu. Untunglah ia, telah terlukis di dalam hatiku, meski digerhanakan rindu.. Istriku, di hadapanku ada ratusan bidadari, gemerlapan bagaikan bintang gemintang.. Namun andai kauhadir di sini Cintaku Sayang, mereka semua akan terbenam hilang.. Seperti bintang-bintang tak tampak lagi, ketika mentari terbit meninggi.

Engkau, hangat dan cahaya, adalah matahari hati.. Akhirnya hanya deras hujan dan daras Quranmu; tiap rinai dan senarainya mengilaukan bayang wajahmu; jatuh berdebur ke dalam hatiku. Allaahummaa shayyiban naafi’a.. @salimafillah

Walau Setitik, Berkebaikanlah…. (bukan kisahku)

Peristiwa ini terjadi waktu saya iseng bareng teman saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranang siang, kota Bogor.

Pengemudi angkot itu seorang anak muda, didalam angkot duduk 7 orang penumpang, termasuk kami. Masih ada 5 kursi yang belum terisi, seperti biasa di tengah jalan, angkot-angkot saling menyalip untuk berebut penumpang.

Namun ada pemandangan aneh, didepan angkot yang kami tumpangi ada seorang ibu dengan 3 orang anak remaja berdiri di tepi jalan.

Setiap ada angkot yang berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali.

Kejadian ini terulang beberapa kali. Ketika angkot yang kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya: “Dik, lewat terminal bis ya?”, supir tentu menjawab “ya”. Yang aneh si ibu tidak segera naik. Ia bilang “Tapi saya dan ke 3 anak saya tidak punya ongkos.” Sambil tersenyum, supir itu menjawab “Gak pa-pa bu, naik saja”, ketika si ibu tampak ragu-ragu, supir mengulangi perkataannya “ayo bu, naik saja, gak pa-pa ..” Saya terpesona dengan kebaikan Supir angkot yang masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk mencari penumpang, tapi si Supir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya untuk si ibu dan anak-anaknya. Ketika sampai di terminal bis, 4 orang penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada Supir.

Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang 20 ribu. Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya 4 ribu), pria ini bilang bahwa uang itu untuk ongkos dirinya serta 4 orang penumpang gratisan tadi. “Terus jadi orang baik ya, Dik ” kata pria tersebut kepada sopir angkot muda itu…

Sore itu saya benar-benar dibuat kagum dengan kebaikan-kebaikan kecil yang saya lihat. Seorang Ibu miskin yang jujur, seorang supir yang baik hati dan seorang penumpang yang budiman. Mereka saling mendukung untuk kebaikan.

Andai separuh saja bangsa kita seperti ini, maka dunia akan takluk oleh kebaikan kita. Teruslah berbuat baik, sekecil apapun ketulusan yang kita perbuat tentunya sangat berarti untuk orang lain..! (fb.Rumah Zakat).