Apa yang membedakan kita dengan para da’i agung di zaman lalu?

Adalah kota Bashrah ketika itu dijejali ribuan budak. Karena banyaknya, perlakuan para majikan pada mereka menjadi tak sebaik dahulu. Masih amat manusiawi, tapi rasanya ada kehangatan yang hilang.

Maka para hamba sahaya itu menghadap pada Imam Hasan Al Bashri. “Ya Imam”, ujar mereka, “Mohon pada Jumat depan khuthbahkanlah keutamaan membebaskan budak dan memperlakukan sahaya dengan baik.”

Sang Imam mengangguk sendu. “Insyaallah”, ujar beliau, “Doakanlah agar aku mampu.”

Tapi Jumat itu mereka kecewa. Sang Imam mengkhuthbahkan tema yang jauh berbeda. Saat menggugatnya, mereka dijawab dengan wajah sedih, “Mohon bersabar ya. Semoga dapat kusampaikan di pekan berikutnya.”

Tapi pekan berikutnya, dan pekan berikutnya lagi tema yang dinanti itu tak kunjung tergemakan dari mimbar Imam Hasan Al Bashri. Barulah di pekan keempat, di Jumat yang syahdu itu tersimak kata-kata yang amat mantap tentang keutamaan membebaskan budak dan memperlakukan sahaya dengan baik.

Seruan itu bersambut cepat. Hari itu selepas shalat Jumat, kota Bashrah menyaksikan bebasnya ribuan budak.

Para sahaya kembali menghadap dan bertanya, “Mengapa baru sekarang ini, setelah lama kami menanti?”

“Maafkan aku”, jawab tabi’in agung itu. “Aku sudah berusaha keras mengumpulkan uang sejak kalian memintaku. Tapi uang yang kukumpulkan baru cukup untuk membeli budak kemarin ini saja. Alhamdulillah setelah seharian selesai tugasnya & selesai pula tugasku padanya, hari ini menjelang berkhuthbah dia kubebaskan.”

Tertempelak rasanya tiap kali menyimak hidup para Salafush Shalih.

Sumber : Facebook Ust Salim A Fillah

Iklan

Dimanakah Kita….?

Adalah Al Imam Abul Faraj ibn Al Jauzy, rautan pena yang digunakannya untuk menulis dapat menyalakan perapian sebuah rumah selama berbulan-bulan. Jika jumlah halaman seluruh karya tulisannya yang sekira 2000 judul dibagi dengan umurnya sejak baligh, maka dihasilkan bilangan 40 halaman per hari.

Melalui dakwahnya, lebih dari 30.000 Yahudi dan Nasrani masuk Islam. Melalui mau’izhahnya, lebih dari 100.000 orang bertaubat dari dosa-dosa. Tapi adalah beliau berwasiat kepada para muridnya sambil menangis terisak-isak.

“Jika kalian telah masuk ke dalam surga Allah”, ujarnya di sela sesenggukan, “Sedang kalian tak mendapatiku ada di sana.. Maka tanyakanlah oleh kalian tentang diriku. Lalu katakanlah, ‘Ya Rabbi, sungguh hambaMu si fulan pernah mengingatkan kami tentang Engkau.. Maka angkatlah dia, sertakan bersama kami dengan rahmatMu.” Dan beliau semakin tersedu.

Yaa Rabbanaa.. Aina nahnu min akhlaqis salaf.. Di manakah kedudukan kami dibanding segala kebajikan yang mereka tebar dengan ilmu dan ‘amalnya; lalu di mana pula kami dibanding akhlaq dan ketawadhu’an mereka..

Sumber : FB Ustadz Salim A Fillah

Damai dalam Perbedaan

Adalah KH. AR. Fachruddin pada suatu ketika setelah menyampaikan kuliah tarawih yang memikat diminta untuk mengimami shalat Tarawih. Beliau, seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, termasuk yang berdalil pada hadits ‘Aisyah yang menyatakan shalat malam Rasulullah di rumahnya tak pernah lebih dari 11 raka’at. Tapi jangan tanyakan panjang dan bagusnya.

Sedangkan Masjid ini berada di sebuah kota di Jawa Timur, para jama’ahnya yang kebanyakan Nahdliyyin mengamalkan pendapat jumhur sahabat yang menyatakan tiadanya batasan raka’at sebab Nabi suka meringankan bagi para sahabat dengan mengurangi lama berdirinya dan menambah jumlah raka’atnya; yang mana nanti Sayyidina ‘Umar memilih bilangan 23 raka’at.

Maka Pak AR bertanya pada hadirin, “Bapak dan Ibu sekalian. Biasanya tarawihnya berapa raka’at di sini; sebelas atau dua puluh tiga?”

“Dua puluh tigaaa”, jawab mereka serempak.

“Baik, bismillah. Semoga dapat kita laksanakan seperti biasanya.”

Shalatpun beliau imami dengan bacaan yang empuk. Tidak terlalu mendayu tapi enak didengar. Nah, biasanya di Masjid ini, meski 23 raka’at jumlahnya, pada pukul 20.00 shalat sudah akan usai karena memang cepat gerakannya. Tapi Pak AR mengimami dengan sangat santai hingga pada pukul 20.30, baru 8 raka’at yang mereka dapatkan.

“Bapak dan Ibu sekalian”, ujar Pak AR saat berdiri lagi, “Mengingat waktu, kita lanjutkan sampai 20 atau witir saja ya?”

Jama’ah menjawab dengan sangat kompak, “Witirrr!”

Gus Dur menanggapi kejadian itu bahwa, hanya bersebab kecerdikan dan kesantunan Pak AR-lah, warga Nahdliyyin rela raka’at shalat Tarawihnya didiskon 60 persen.

Sumber : @salimafillah

INI ALASAN SAYYIDINA KHALID, APA ALASAN KITA?

Dikisahkan bahwa, sahabat agung yang berjuluk saifullah al-maslul (pedang Allah yang selalu terhunus), Khalid bin Al-Walid radhiyallahu anhu dulu, setiap kali mengambil Mushaf Al-Quran untuk membacanya, beliau selalu menangis seraya berkata: Kami telah tersibukkan darimu (wahai Al-Quran) oleh jihad!

Nah, jika sang panglima jihad islami sepanjang sejarah senantiasa menangis dengan penuh rasa bersalah karena, menurut beliau, kurang banyak membaca Kitabullah, dengan alasan syari yang demikian indah, mulia dan agung, yakni kesibukan beliau dalam berjihad fi sabilillah, yang tak lain adalah dalam rangka memperjuangkan dan membela ajaran serta nilai-nilai Al-Quran itu sendiri. Ya jika kesibukan jihadlah alasan Sayyidina Khalid sehingga agak jarang tilawah, lalu apakah gerangan alasan logis kita ketika selama ini masih juga sering bersikap kurang akrab dengan Kalamullah? Bahkan mungkin ada yang sampai seolah-olah tengah “berseteru” dengannya, karena begitu langkanya ia “menyapa”-nya?

Dan apakah kita juga menangis karenanya, seperti sahabat Khalid radhiyallahu anhu dulu menangis?

Mari bertobat dan beristighfar..! Mari menangis dengan penuh rasa bersalah dan berdosa kepada Allah, karena selama ini telah lebih sering jauh dengan Kitab-Nya, Al-Quran Al-Karim! Dan jika ternyata sulit untuk bisa menangis karena itu, maka sudah sepantasnyalah kita menangisi kerasnya hati yang telah demikian membatu karena tidak atau jarang tersirami oleh hujan barakah Al-Quran!

Mari selalu menyapa Al-Quran, mengakrabinya seakrab-akrabnya, dan mengharmoniskan hubungan kita dengannya, seharmonis-harmonisnya! Sehingga, dengan demikian, barakah Allah-pun insyaallah akan senantiasa menyapa kita, mengakrabi kehidupan kita, dan mengharmoniskan setiap langkah hidup kita dengan hidayah, inayah dan taufiq Allah Azza wa Jalla!

Aamiin!

Dari fp inspirasi islami

Kisah Haru Nan Menakjubkan Sulaiman Al-Rajhi, Milyarder Saudi

Sulaiman Al-Rajhi (سليمان الراجحي), milyarder Saudi Berkisah:

Dahulu, hidup saya sangat susah alias faqir, sampai-sampai saya tidak bisa ikutan rihlah atau tamasya yang dilaksanakan oleh sekolah saya yang waktu itu biaya pendaftarannya hanya 1riyal saudi saja, walaupun saya sudah menangis-nangis memohon kepada keluarga agar saya dapat ikutan rihlah, tapi tetap saja kelurga saya tidak punya uang 1 riyal untuk mendaftarkan saya ikutan rihlah.

Sehari sebelum rihlah, saya berhasil menjawab sebuah pertanyaan yang dilontarkan guru di kelas, lalu guru itupun memberi saya uang satu riyal sebagai hadiah, diiringi tepuk tangan para murid-murid yang lain.

Pada saat itu, saya tidak lagi mikir apa-apa, selain berlari kencang untuk mendaftarkan diri ikutan rihlah. Duka nestapa saya terasa terbang seketika dan berubah total menjadi bahagia berkepanjangan selama berbulan-bulan.

Hari-hari sekolahpun berlalu, sayapun dewasa untuk melanjutkan kehidupan. Setelah melewati berbagai rintangan hidup, setelah bekerja keras selama bertahun-tahun dan berkat anugerah dari Allah sayapun sukses dan selanjutnya saya membuat yayasan sosial.

(Al Rajhi Bank Tower)

Setelah saya memulai bergerak di bidang amal sosial, saya kembali teringat kisah kecil saya, teringat kembali guru kecil saya orang Palestina itu, yang pernah memberi saya uang 1 riyal. Saya mulai mengingat-ingat, apakah beliau dahulu memberi saya uang 1 riyal itu sebagai sedakah atau kah hadiah karena saya sudah berhasil menjawab pertanyaannya. Yang jelas saya tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Saya berkata di dalam hati, apapun motif dan niat sang guru, beliau sudah menyelesaikan problem besar saya saat itu tanpa membebankan siapa-siapa.

Oleh karenanya, saya mengunjungi kembali sekolah saya itu, lalu saya mendatangi kantor sekolah dan mencari tau keberadaan guru saya orang Palestina itu, sampai akhirnya saya mendapatkan jalan untuk menemuinya. Saya pun akhirnya merencanakan untuk menemuinya untuk mengetahui kondisinya saat saat ini.

Singkat kata, sayapun akhirnya dipertemukan Allah kembali dengan guru baik itu, dan kondisinya sangat susah, tidak lagi bekerja dan siap-siap pulang kampung.

Selanjutnya, setelah saya memperkenalkan diri, saya katakan padanya bahwa saya punya hutang besar padanya pada beberapa tahun yang lalu.

Guru saya ini kaget bukan kepalang, apa benar ada orang yang punya hutang pada saya, katanya.

Saya pun menjelaskan, apakah bapak masih ingat dengan murid bapak yang pernah bapak beri uang satu riyal karena murid bapak itu berhasil menjawab soal yang bapak lontarkan di kelas bapak saat itu?

Setelah berusaha mengingat-ingat, guru saya ini akhirnya tertawa, dan berkata: “ya..ya…saya ingat. Jadi kami mencari saya untuk mengembalikan uang 1 riyal itu”. “Ia pak” jawab saya. Setelah sedikit berbincang, saya bawa beliau naik mobil dan kamipun beranjak.

Selanjutnya, kami sampai ke tujuan, dan kenderaan kami berhenti tepat di depan sebuah Villa Indah. Kami keluar dari mobil dan memasuki Villa tersebut. Setelah berada di dalam Villa, saya menyampaikan niat saya kepada guru saya ini, “Pak, villa ini saya berikan kepada bapak untuk melunasi hutang saya dahulu plus mobil yang tadi kita naiki, dan gaji per bulan seumur hidup serta pekerjaan buat putra bapak di perusahaan saya”.

Guru saya ini kaget bukan kepalang, dan berujar, “Tetapi ini terlalu banyak, nak?”

“Percayalah pak, kegembiraan saya dengan 1 riyal yang bapak berikan pada saya saat itu lebih besar nilainya dibandingkan dengan 10 villa seperti ini, saya tidak akan dapat melupakan kebahagiaan itu sampai sekarang,” jawab saya.

***

Inilah buah dari didikan agama yang baik, tebarkan bahagia, ungkai duka nestapa sesama, dan tunggulah balasan terbaik dari-Nya.

[Translate: Kivlein Muhammad]

Sumber : http://www.portalpiyungan.com