Antara Benci dan Rindu

”Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.”

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku.

Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku. Baca lebih lanjut

Iklan

Jangan Remehkan yang Tak Bergerak Bersamamu

Basrah, Iraq. Sudah beberapa lama tak turun hujan. Hari itu belum beranjak siang. Terik matahari mulai terasa. Angin musim kemarau berhembus. Angin kering padang pasir menerpa wajah. Orang-orang mulai kesulitan mendapati air. Demikian juga binatang peliharaan yang kelihatan kurus-kurus.

Hari itu penduduk Basrah sepakat untuk mengadakan shalat Istisqa’. Untuk meminta hujan yang sudah sekian lama tertahan. Shalat itu akan dihadiri para ulama Basrah dan tokoh masyarakatnya. Yang langsung akan dipimpin oleh salah seorang ulama pilihan di antara mereka. Nampak di antara para ulama yang sudah hadir Ulama Besar Malik bin Dinar, Atho’ As-Sulaimi, Tsabit Al-Bunani, Yahya Al-Bakka, Muhammad bin Wasi’, Abu Muhammad As-Sikhtiyani, Habib Abu Muhammad Al-Farisi, Hasan bin Abi Sinan, Utbah bin Al-Ghulam, dan Sholeh Al-Murri.

Benar-benar sebuah sholat Istisqo’ yang istimewa. Dihadiri orang-orang terbaiknya. Tentunya dengan harapan agar Allah menurunkan kembali hujan yang ditahan karena dosa-dosa manusia.

Para penduduk nampak berduyun-duyun mendatangi lapangan yang telah ditentukan. Para ulama pun sudah mulai nampak di lapangan itu.

Anak-anak kecil yang asyik belajar di tempat pengajian Al-Qur’an mereka, juga nampak berlarian menuju lapangan. Demikian juga para wanitanya. Besar, kecil, laki, perempuan, tua, muda, semuanya tidak ada yang ketinggalan untuk mengikuti sholat. Dengan hanya satu harapan, agar hujan kembali turun.

Sholat dimulai. Dua rokaat sudah. Selesai itu sang imam menyampaikan khutbah dan doa panjangnya. Mengakui segala kelemahan dan kesalahan manusia yang menyebabkan murka Allah. Dan mengharap kembali turunnya berkah hujan dari langit. Karena masih ada orang tua dan binatang yang tidak bersalah ikut menanggung akibat dosa sebagian orang. Doa terus dipanjatkan.

Waktu terus beranjak siang. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Mendung tak kunjung datang. Langit masih terlihat cerah. Matahari semakin terasa terik. Sholat Istisqa’ selesai. Semua penduduk pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah para ulama yang masing-masing bertanya dalam hati mengapa hujan tak kunjung datang. Padahal telah berkumpul orang-orang baik dan pilihan di masyarakat Basrah. Baca lebih lanjut

Istighfar-lah maka masalahmu terselesaikan

Imam al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan dari Ibnu Subaih rahimahullah, bahwasanya dia berkata, “Ada seorang yang mengadu musim paceklik kepada Hasan al-Bashri rahimahullah, Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, ‘Istighfarlah engkau kepada Allah.’ Ada lagi yang mengadu bahwa dia miskin, Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Mintalah ampun kepada Allah.’ Lain lagi orang yang ketiga, ia berkata, ‘Doakanlah saya agar dikaruniai anak.’ Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Mintalah ampunan kepada Allah.’ Kemudian ada juga yang mengadu bahwa kebunnya kering. Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Mohonlah ampun kepada Allah.’

Melihat hal itu, Rabii’ bin Subaih bertanya, ‘Tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?’ Hasan al-Bashri rahimahullah menjawab, ‘Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan dalam firman-Nya (yang artinya),

Maka, Aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah amounan kepada Rabb-mu, -seseunnguhnya dia adalah Maha Pengampun-, niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’” (QS. Nuh [71]: 10-12)

Penulis: Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Luqman hafizhahullah
Artikel www.KisahMuslim.com
Disarikan dari artikel berjudul “Ya Alloh…, Ampunilah Aku” dalam Majalah
Al-Furqon, Edisi 12 Tahun Ke-9 1431/2010

Wahai Khalifah… engkau membuat penggantimu menjadi berat

Ada yang membuat diri Umar bin Khattab ra dilanda rasa penasaran pada sikap khalifah Abu Bakar ra setelah dilantik menjadi khalifah paska wafatnya Rasulullah saw kala itu. Adalah kebiasaan setelah memimpin sholat subuh berjama’ah di masjid, Abu Bakar tidak pernah lama untuk duduk berzikir setelahnya, pergi begitu saja meninggalkan para sahabat seperti ada hajatan yang penting untuk beliau lakukan.

Rasa penasaran Umar bin khattab ra menggodanya suatu saat untuk “membuntuti” sang khalifah, apa gerangan yang selalu membuatnya tergesa-gesa meninggalkan masjid sepagi itu. Bukan Umar bin khattab kalau penasarannya tidak berujung mengantarnya mencari jawaban. Baca lebih lanjut

Apakah Saya Dicintai Rasulullah?

Abdullah bin Mas’ud, salah seorang sahabat terdekat dan terbanyak mengambil ilmu dari Rasulullah pernah berkata perihal diri Rabi’ bin Khutsaim : “Wahai Abu Yazid (kun-yah Rabi’ bin Khutsaim), andaikan Rasulullah melihat dirimu, pasti beliau akan mencintaimu. Setiap kali aku melihat dirimu aku selalu teringat akan orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah (المخبتين)”.

Para ulama hadits dan para pakar “jarh wa ta’dil” seperti Imam Asy Sya’bi dan Yahya bin Ma’in  berkata tentang dirinya: “Manusia seperti Rabi’ bin Khutsaim tidak perlu dipertanyakan lagi”.

Apa keistimewaan Rabi’ sehingga beliau mendapat pengakuan dari sahabat Rasulullah bahwa beliau adalah orang yang pasti dicintai Rasulullah?

Banyak riwayat tentang diri beliau yang perlu kita teladani, supaya kita juga menjadi orang yang dicintai Rasulullah. Sekalipun sulit, bahkan hampir mustahil untuk kita tiru sepenuhnya, akan tetapi untuk perbaikan diri, sekalipun tidak akan sampai kederjat beliau, paling kurang kita sudah berusaha untuk meniru sifat mulianya.

تشبهوا بالرجال إن لم تكونوا مثلهم إن التشبه بالرجال فلاح

“Tirulah para tokoh itu sekalipun kamu tidak akan mungkin menyamainya. Sesungguhnya meniru para tokoh itu akan menjadikanmu menang”.

Di antara sifat Rabi’ bin Khutsaim yang terukir dalam sejarah hidupnya: Baca lebih lanjut