Rasulullah Berlindung dari 7 Bentuk Kematian

Akhir-akhir ini hampir setiap hari saya mendapat kabar kematian secara mendadak. Semuanya meninggal karena sudah sampai ajal saja, bukan disebabkan oleh kecelakaan atau semacamnya.

Tanpa ada tanda-tanda penyakit, dalam kondisi sehat wal afiat, tiba-tiba meninggal. Ada yang lagi bekerja, ada yang lagi duduk-duduk dengan keluarga, ada yang lagi belanja di pasar, ada yang habis olah raga, ada yang lagi menunaikan hajatnya di kamar mandi, ada yang di kampus kuliah dan banyak yang sedang tidur, tidak bangun-bangun lagi. Di samping itu maut mendatangi siapa pun tanpa pandang umur.

Rasulullah mengatakan: “Mati secara mendadak itu ketenangan bagi seorang mukmin dan sentakan kemarahan bagi pendurhaka”. (HR. Imam Ahmad)

Rasulullah berlindung dari mati mendadak, dan beliau menyukai sakit dulu sebelum mati. (HR. Imam Thabrany di Mu’jam Kabir) Baca lebih lanjut

Iklan

Ketika Adzan Berkumandang Jam 22.00

 

Di sebuah kampung suasana kampung tiba-tiba heboh semalam karena persis jam 22.00 terdengar adzan berkumandang dari sebuah mushalla setempat lewat pengeras suara yang memecah keheningan malam.

Suara pengumandang adzan yang tak kalah gontai membuat warga berbondong-bondong mendatangi mushalla itu meski mereka sudah tahu siapa yang melakukannya; Mbah Sadi, yang umurnya sudah menembus kepala tujuh.
Baca lebih lanjut

Saat Allah Menahan Pemberian

Syaibani Ar-Ra’i berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Wahai Sufyan! Hitunglah berapa banyak Allah menahan pemberian-Nya kepadamu, sesungguhnya Dia tidak memberimu, bukan karena Dia bakhil, tapi Dia menahanmu karena cinta kepadamu.”

Bukankah Khidir melubangi kapal agar bisa selamat. Diapun membunuh anak kecil untuk menyelamatkan kedua orang tuanya dari kekejaman anak tersebut, lalu dia membangun tembok agar dua orang anak mendapat manfaat dari harta simpanan yang terpendam dibawahnya pada saat mereka sudah dewasa.
Baca lebih lanjut

Waktu-Waktu Terkabulnya Do’a

Sungguh berbeda Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan makhluk-Nya. Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Lihatlah manusia, ketika ada orang meminta sesuatu darinya ia merasa kesal dan berat hati. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai hamba yang meminta kepada-Nya. Sebagaimana perkataan seorang penyair:

الله يغضب إن تركت سؤاله  وبني آدم حين يسأل يغضب

Allah murka pada orang yang enggan meminta kepada-Nya, sedangkan manusia ketika diminta ia marah

Ya, Allah mencintai hamba yang berdoa kepada-Nya, bahkan karena cinta-Nya Allah memberi ‘bonus’ berupa ampunan dosa kepada hamba-Nya yang berdoa. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

يا ابن آدم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان منك ولا أبالي

Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu” (HR. At Tirmidzi, ia berkata: ‘Hadits hasan shahih’)

Sungguh Allah memahami keadaan manusia yang lemah dan senantiasa membutuhkan akan Rahmat-Nya. Manusia tidak pernah lepas dari keinginan, yang baik maupun yang buruk. Bahkan jika seseorang menuliskan segala keinginannya dikertas, entah berapa lembar akan terpakai.

Baca lebih lanjut

“Rizqi Kita, Soal Rasa” | Salim A Fillah

Aku tahu, rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang..Aku tahu, ‘amalku takkan dikerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang.. (Hasan Al Bashri)

Pemberian uang yang sama-sama sepuluh juta, bisa jadi sangat berbeda rasa penerimaannya. Kadang ia ditentukan oleh bagaimana cara menghulurkannya.

Jika terada dalam amplop coklat yang rapi lagi wangi, dihulurkan dengan senyum yang harum dan sikap yang santun, betapa berbunga-bunga kita menyambutnya. Apatah lagi ditambah ucapan yang sopan dan lembut, “Maafkan sangat, hanya ini yang dapat kami sampaikan. Mohon diterima, dan semoga penuh manfaat di jalan kebaikan.”

Ah, pada yang begini, jangankan menerima, tak mengambilnya pun tetap nikmat rasanya. Semisal kita katakan, “Maafkan Tuan, moga berkenan memberikannya pada saudara saya yang lebih memerlukan.” Lalu kita tahu, ia sering berjawab, “Wah, jika demikian, kami akan siapkan yang lebih baik dan lebih berlimpah untuk Anda. Tapi mohon tunggu sejenak.”

Baca lebih lanjut

Kisah Tukang Roti dan Imam Ahmad Bin Hanbal dengan Istighfar

istighfar

Kisah ini terjadi pada masa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Ketika itu Imam Ahmad hendak menghabiskan malamnya di dalam masjid, akan tetapi ia terhalang untuk bermalam di dalam masjid, karena larangan penjaga masjid. Ia terus berusaha meminta izin, namun tidak membuahkan hasil. Lalu, Imam Ahmad berkata kepada si penjaga,” Saya akan tidur di tempat kakiku berpijak ini.” Dan, benar, Imam Ahmad bin Hanbal tidur di tempat kakinya berpijak. Lalu penjaga masjid mengusirnya dari lokasi masjid. Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang syaikh yang berwibawa, serta terlihat tanda-tanda keshalihan dan ketakwaan pada dirinya.

Lalu ada seorang tukang roti yang melihat Imam Ahmad. Begitu si tukang roti melihat penampilannya, ia menawarkan tempat bermalam. Maka, Imam Ahmad bin Hanbal pergi bersama tukang roti itu, dan ia begitu memuliakannya. Baca lebih lanjut

Doa agar mudah melunasi hutang

Doa agar mudah melunasi hutang

Hutang dalam banyak keadaan merupakan penderitaan dan tekanan hidup tersendiri, terlebih bagi orang-orang yang kurang mampu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sendiri dalam banyak kesempatan berlindung kepada Allah dari belitan hutang.

Hutang adalah tanggungan harta di pundak orang yang meminjam kepada pihak yang memberi pinjaman. Sebagai hak sesama hamba, hutang memiliki konskuensi yang berat di dunia dan akhirat. Jika seseorang memiliki hutang kepara orang lain, maka ia wajib membayar lunas hutang tersebut.

Seandainya seseorang yang memiliki hutang meninggal dunia, namun hutang-hutangnya belum dibayarkan secara lunas, maka hutang itu akan tetap menjadi tanggungan dirinya di alam kubur dan alam akhirat. “Segala dosa diampuni atas diri orang yang mati syahid, kecuali hutang.” sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim.

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Jika seorang laki-laki yang meninggal dan memiliki hutang dibawa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, maka beliau bertanya, “Apakah ia meninggilkan harta yang bisa untuk melunasi hutangnya?” Baca lebih lanjut